<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4679235888465264280</id><updated>2011-12-24T09:43:28.549+07:00</updated><category term='sahabat sejati'/><category term='keselamatan'/><category term='sopan santun'/><category term='natal'/><category term='panggilan Tuhan'/><category term='Yesus'/><category term='etika'/><category term='soul'/><category term='grace'/><category term='dosa'/><category term='ibadah'/><category term='song'/><category term='okultisme'/><category term='ramalan'/><category term='pengampunan'/><category term='Doa'/><category term='Christian video'/><category term='pilihan'/><category term='liturgi'/><category term='Horacio'/><category term='anugerah'/><category term='hipnotis'/><category term='kasih'/><title type='text'>Re-Map Your Mind</title><subtitle type='html'>cor meum tibi offero domine prompte et sincere.
Never let it rest 'Til your good is better And your better is best!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://prazh.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prazh.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>prazh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01247479753862694266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gNWaDcx-39I/SwTGXlltmsI/AAAAAAAAAAo/uqAh_e6LEBA/S220/HS+BARU.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>23</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4679235888465264280.post-2569373595752989129</id><published>2011-12-23T22:34:00.002+07:00</published><updated>2011-12-24T09:43:28.567+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liturgi'/><title type='text'>[Seri 5] Dasar Memimpin - Liturgie Kebaktian</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Prinsip-prinsip liturgi kebaktian harus dicari hanya dari kitab suci saja. Harus diakui bahwa kitab suci tidak memberikan sebuah petunjuk detail mengenai kebaktian, namun yang ada hanya peraturan-peraturan dasar saja. Tujuan utama diselenggarakannya kebaktian adalah bahwa orang kristen dibangun, sehingga tidak saja diperlukan pengajaran dalam penyelenggaraan kebakrian juga adanya gengsi, kesopanan dan keteraturan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Dalam pelaksaan kebaktian, gereja tidak boleh melarang/menyisihkan seseorang dalam mengambil bagian dalam pelayanan kebaktian (memimpin) berdasarkan suku, warna, kelas, umur, jenis kelamin atau kaum difabel. Tetapi yang harus dicatat atau diperhatikan, juga dijaga adalah tidak sembarang orang dapat memimpin sehingga memberikan kesan tidak baik, kurang khidmat, tidak agung, tidak sopan kepada Tuhan. Hal penting yang lain adalah janganlah menjadi batu sandungan bagi orang lain, termasuk orang yang sudah percaya kepada Kristus, terlebih lagi kepada orang yang baru mengenal, percaya kepada Kristus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Penyelenggaraan kebaktian diperlukan adanya persiapan yang seksama melalui doa, merenungkan firman Tuhan, istirahat secara badani yang cukup sehingga badan dan akal kita siap untuk melaksanakan ibadat/apalagi kalau harus memimpin liturgi kebaktian pada hari Tuhan. Jemaat juga perlu diajak untuk mendoakan hamba Tuhan agar ia dapat dipakai dan dikuasai oleh roh kudus sehingga  kebaktian ini benar-benar membawa berkat bagi orang yang mendengarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Apa saja unsur-unsur dalam liturgi? Di bawah ini akan diterangkan unsur-unsur dalam sebuah liturgi kebaktian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;a. Pembacaan Kitab Suci&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Kitab suci merupakan sumber kuasa Tuhan yang memungkinkan manusia menjalin hubungan dengan Tuhan melalui Yesus Kristus. Melalui mendengar firman Tuhan juga mengajak jemaat untuk mentaati kehendak-Nya. Bagi gereja-gereja reformasi, kitab suci memang memainkan peranan teramat penting yang digambarkan melalui:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;1. dimulainya kebaktian dengan masuknya kitab suci yang diletakkan di atas mimbar. Pada saat momen ini jemaat harus menyambut dengan bangkit berdiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;2. mimbar berada di tengah gereja bagian depan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Pembacaan kitab suci harus diawali dengan doa agar roh kudus yang melengkapi penulisan kitab suci dapat menuntun jemaat yang hadir untuk dapat mengerti kebenaran firman Tuhan. Seyogyanya kitab suci dibacakan dari perjanjian lama sampai perjanjian baru (secara berurutan).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;b. Khotbah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;untuk menggambarkan bahwa ada hubungan yang erat bahwa kitab suci itu ada yang tertulis dan diwartakan maka perlu suatu khotbah yang harus disampaikan secara lisan berdasarkan pembacaan kitab suci yang telah ditentukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Firman Tuhan yang disampaikan hendaknya disesuaikan dengan situasi, kebutuhan, keadaan, umur jemaat yang ikut kebaktian. Mengingat pentingnya khotbah maka tidak sembarang orang diperbolehkan memberikan khotbah. Orang yang boleh memberikan khotbah adalah seseorang yang sudah ditetapkan/disetujui oleh hamba Tuhan/Gembala Sidang/Majelis yang bertanggung jawab penuh atas "kesehatan" rohani jemaatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;c. Nyanyian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Pada jaman dulu sampai dengan jaman pertengahan, puji-pujian hanya dilakukan oleh anggota koor saja. Tetapi sejak reformasi, maka nyanyian merupakan bagian yang harus dilakukan oleh jemaat dalam kebaktian. Nyanyian ini selain bersifat memuji Tuhan juga dapat bersifat sebagai doa bagi jemaat, oleh karena itu jemaat harus menyanyikan pujian dengan baik, dan mengerti benar pujian yang dinyanyikan karena pujian tersebut ditujukan kepada Tuhan. Di samping itu janganlah menyanyi dengan asal-asalan, harap persiapkan dengan baik, berlatihlah dengan kontinu. Puji-pujian pada saat ini disamping koor dan jemaat dapat juga diisi oleh vokal grup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;d. Doa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Doa perlu dinaikkan oleh pemimpin liturgi mewakili jemaat di hadapan Tuhan. Jemaat harus mengikuti doa tadi dan menngucapkan kata AMIN bersama dengan pemimpin liturgi, kecuali Doa Bapa Kami yang diucapkan secara serempak (meski dalam beberapa gereja, Doa Bapa Kami tidak diucapkan namun diganti dengan 2 Hukum yang utama)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Kita berdoa untuk:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;1. memuji Dia yang telah menciptakan, menyelamatkan, memelihara, membimbing dan melindungi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;2. mengaku dosa pribadi atau seluruh jemaat sambil yakin akan pengampunannya. Maka itu doa pengakuan harus segera dilanjutkan dengan berita pengampunan yang dilanjutkan dengan puji-pujian syukur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;3. syafaat untuk gereja, negara, komisi yang ada di gereja, masyarakat, keluarga, dan diri sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;e. Persembahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Tuhan adalah empunya dari segala sesuatu, sedangkan manusia hanyalah pelaksana saja. Kewajiban ini perlu disadari, diakui dengan mewujudkankannya dalam bentuk persembahan. Persembahan ini dapat bersifat mingguan, bulanan, khusus atau juga persembahan syukur yang bersifat tahunan. Persembahan di sini janganlah diartikan secara sempit hanya berupa materi namun juga non materi seperti persembahan hidup, waktu, bakat, karunia yang dimiliki oleh seseorang untuk digunakan/dipersembahkan bagi Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Persembahan ini sangat penting karena disampaikan kepada Tuhan yang Maha Agung, maka penyampaiannya harus dilaksanakan dengan berdiri (khususnya persembahan yang bersifat materi).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;f. Berkat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Setiap kebaktian harus ditutup dengan berkat yang disampaikan oleh hamba Tuhan atau seseorang yang telah ditunjuk oleh majelis. Apa maksud dari berkat ini? berkat ini dimaksudkan  bahwa Tuhan menyediakan segala kuasa dan kekuatanNya untuk kita melaksanakan, melakukan kehendak-Nya ditengah-tengah dunia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Ada yang patut dalam memimpin sebuah liturgi kebaktian yaitu, menjaga kesopanan, khotbah adalah area untuk menceritakan kebenaran firman Tuhan bukan untuk bercerita diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersambung&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4679235888465264280-2569373595752989129?l=prazh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prazh.blogspot.com/feeds/2569373595752989129/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4679235888465264280&amp;postID=2569373595752989129' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/2569373595752989129'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/2569373595752989129'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prazh.blogspot.com/2011/12/seri-5-dasar-memimpin-liturgie.html' title='[Seri 5] Dasar Memimpin - Liturgie Kebaktian'/><author><name>prazh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01247479753862694266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gNWaDcx-39I/SwTGXlltmsI/AAAAAAAAAAo/uqAh_e6LEBA/S220/HS+BARU.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4679235888465264280.post-3161620188577360708</id><published>2011-12-23T22:33:00.001+07:00</published><updated>2011-12-24T09:40:26.548+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liturgi'/><title type='text'>[Seri 4] Dasar Memimpin - Liturgie Kebaktian</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-family: courier new;"&gt;&lt;span span=""   style="font-size:100%;color:#000000;"&gt;Pelajaran II&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span span=""   style="font-size:100%;color:#000000;"&gt;Liturgie Kebaktian&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: courier new;"&gt;&lt;span span=""   style="font-size:100%;color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi  kasih Allah yang maha kuasa dan karunia Allah sehingga disediakannya  pengampunan dosa maka orang-orang Kristen lalu bersyukur padaNya melalui  ibadat. Dan kebaktian merupakan salah satu bagian dari ibadat tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui  kebaktian orang Kristen menunjukkan secara nyata adanya Allah, hadirnya  Allah serta perbuatan-perbuatan keselamatan yang telah Ia lakukan bagi  manusia melalui: puji-pujian, pengakuan, pernyataan syukur, permintaan  dan syafaat dan persekutuan doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui kebaktian juga  orang-orang percaya yang bersekutu dengan Allah meneruskan wahyu Allah  serta perdamaian Allah. Hal ini dinyatakan melalui pembacaan Kitab Suci,  khotbah dan sakramen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kebaktian, kita akan melakukan  liturgie, yaitu apa yang diucapkan dalam kebaktian umum oleh pemimpin  kebaktian maupun jemaat dan tindakan ritual. Contoh: berdiri dan  duduknya jemaat, sikap dalam doa, dsb. Juga termasuk didalam ritual  diletakkannya Kitab Suci di atas mimbar, pembacaan warta gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kebaktian yang terlibat adalah:&lt;br /&gt;a. Allah yang hidup&lt;br /&gt;b. Allah yang adalah Tuhan sehingga Ia memiliki hak dan kekuasaan untuk menuntut dan memerintah kita.&lt;br /&gt;c. Allah yang hadir dalam kebaktian, sehingga kebaktian bukanlah sekedar suatu ritual belaka&lt;br /&gt;d. Allah yang mengundang dan menanggapi bakti kita&lt;br /&gt;e. Allah yang selalu mendengar segala doa kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di  dalam kebaktian disamping kita memuja Allah sekaligus kita saling  mendorong satu dengan yang lain untuk melaksanakan apa yang menjadi  kehendak maupun panggilan Tuhan bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kebaktian  juga perlu dijaga jangan sampai ditemukan alasan-alasan oleh orang luar  bahwa jemaat/orang Kristen sudah menjadi gila (suatu kumpulan  orang-orang yang tidak tahu adat) Maka kebaktian itu harus dipimpin  sedemikian rupa sehingga ada rasa agung dan hormat. Tindak tanduk,  tingkah laku jemaat dan pemimpin kebaktian sangat mempengaruhi isi  kebaktian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Calvin, bapak gereja-gereja presbyterian menuntut  agar gereja melaksanakan kebaktian sesuai kitab suci saja. Maka  berdasarkan doktrin, disiplin dan pengertian ibadah, maka ia menyusun  pola umum untuk liturgie kebaktian bagi gereja-gereja di seluruh dunia  walau di setiap negara dan gereja ada sedikit perbedaan dalam  pelaksanaan namun demikian secara prinsip/dasar adalah sama. Bagi gereja  reformasi, liturgienya tidak akan jaug berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun  kebaktian merupakan suatu tindakan rohani yaitu tergantung pada hati  seseorang yang berbakti, namun akibat dosa manusia tentu akan gagal  melaksanakan baktinya kecuali dibantu dengan hal-hal yang lahiriah yang  dinamakan seremoni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara-upacara tidak boleh dilakukan sekedar  sebagai jalan untuk berdamai/mendekati Allah. Karena dengan demikian  kita tidak berbeda dengan agama-agama lain dengan seremoni mereka. Yang  penting dalam pelaksanaan upacara-upacara ialah bahwa kita melakukannya  sesuai dengan ketetapan Allah. Dengan perkataan lain tanpa adanya  ketetapan Allah, upacara yang kita selenggarakan menjadi sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui  upacara-upacara bukannya Allah mengajak anak-anakNya untuk berbuat yang  lahiriah, tetapi justru untuk menarik mereka kepada yang ada di atas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:Verdana;font-size:100%;color:#000000;" span=""   &gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;bersambung ...&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4679235888465264280-3161620188577360708?l=prazh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prazh.blogspot.com/feeds/3161620188577360708/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4679235888465264280&amp;postID=3161620188577360708' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/3161620188577360708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/3161620188577360708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prazh.blogspot.com/2011/12/seri-4-dasar-memimpin-liturgie.html' title='[Seri 4] Dasar Memimpin - Liturgie Kebaktian'/><author><name>prazh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01247479753862694266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gNWaDcx-39I/SwTGXlltmsI/AAAAAAAAAAo/uqAh_e6LEBA/S220/HS+BARU.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4679235888465264280.post-3360886160099281198</id><published>2011-12-23T22:32:00.001+07:00</published><updated>2011-12-24T09:37:57.142+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liturgi'/><title type='text'>[Seri 3] Dasar Memimpin - Liturgie Kebaktian</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: courier new;"&gt;&lt;span span=""   style="font-size:100%;color:#000000;"&gt;Pujian  dan ibadah sebenarnya berhubungan satu sama lainnya sehingga sering  sukar sekali untuk membedakan kapankah pujian itu berhenti dan ibadah  dimulai. walaupun demikian pelayanan pujian dan pengalaman ibadah  merupakan dua hal yang benar2 berbeda. Keduanya sama-sama mempunyai  tujuan yang sama, tetapi keduanya itu berbeda. Adapun perbedaan antara  pujian dan ibadah itu adalah:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:Verdana;font-size:100%;color:#000000;" span=""   &gt; &lt;p&gt;a. Puji-pujian adalah suatu pengakuan, sedangkan ibadah itu adalah  suatu hubungan. pujian itu hanya mengarah pada satu arah saja yaitu  Allah. Kita memuji Allah tetapi Allah tidak memuji kita. Dalam  puji-pujian kita mengakui kuasa, hikmat, wibawa dan kelayakan-Nya. Dalam  puji-pujian kita tidak mengaharapkan adanya balasan pujian dari yang  kita puji, dalam hal ini adalah Allah. Sedangkan dalam ibadah, disamping  kita mengakui Allah, tetapi Allah juga menanggapi kita. Melalui ibadah  kita menjalin hubungan cinta kasih di mana masing-masing akan memberikan  dirinya bagi masing-masing. Oleh karena itu di dalam ibadah kita  menghadapi komunikasi dua jalur.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;b. puji-pujian biasanya mengawali ibadah. Dalam Mazmur 10:4, kita  melihat bahwa pada waktu bangsa Israel memasuki Tabernakel untuk bertemu  dengan Allah, maka mereka memuji-muji Dia. Di Tabernakel-lah Allah lalu  menyatakan diri-Nya kepada mereka. Maka pada waktu masuk ke dalam  hadirat Allah, kita memuji-muji Dia. Dapat dikatakan melalui puji-pujian  kita dihantar ke dalam hadirat Allah. Setelah kita berada dihadiratNya  maka mulailah kita itu beribadah. Ada suatu bahaya yang besar bahwa kita  itu setelah memuji , kita berhenti disitu. dan kita tidak meneruskan di  dalam ibadah. Jangan salah paham bahwa bahwa puji-pujian itu salah.  Puji-pujian itu merupakan suatu bantuan untuk mencapai tujuan, tetapi  tidak merupakan suatu tujuan itu sendiri. maka jika puji-pujian itu  tidak menghantar kita kepada Allah, dikatakan bahwa kita sedang  menghadapi korsluiting. Allah harus menjadi tujuan akhir daripada  puji-pujian kita. Allah akan hadir di mana kita kehendaki Dia dan dimana  kita ingin mendengar suaraNya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;c.Puji-pujian adalah sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang penuh  dengan sukacita. Memang di dalam ibadah perlu adanya dengan sukacita,  tetapi harus disadari dan dimengerti bahwa bersukacita hanya secara  jasmani/badani ataupun bersukacita itu secara rohani yang  berlebih-lebihan. Beda sekali kalau kita itu beribadah, kalau di dalam  puji-pujian kita itu menjadi senang dan disenangkan. Di dalam ibadah  Allah akan menegur dosa-dosa kita. Melalui ibadah, kita bisa dipanggil  untuk pergi mengabarkan injil. Maka di dalam ibadah tidak selalu membawa  sukacita secara badani/jasmani.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Melalui puji-pujian seolah-olah Tuhan itu menyirami umat-Nya,  sehingga mereka bersukacita dengan berkobar-kobar. Tetapi melalui ibadah  maka Tuhan Allah menyentuh umatNya sehingga kehidupan mereka berubah.  Maka kalau kita menghendaki Allah beserta kita, maka kalau kita  menghendaki Allah beserta kita, maka kita harus selalu memuji-muji Dia,  tetapi juga kita harus menyediakan diri untuk beribadah kepadaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selesai pelajaran 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersambung&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4679235888465264280-3360886160099281198?l=prazh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prazh.blogspot.com/feeds/3360886160099281198/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4679235888465264280&amp;postID=3360886160099281198' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/3360886160099281198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/3360886160099281198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prazh.blogspot.com/2011/12/seri-3-dasar-memimpin-liturgie.html' title='[Seri 3] Dasar Memimpin - Liturgie Kebaktian'/><author><name>prazh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01247479753862694266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gNWaDcx-39I/SwTGXlltmsI/AAAAAAAAAAo/uqAh_e6LEBA/S220/HS+BARU.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4679235888465264280.post-7295366283001112032</id><published>2011-12-23T22:31:00.001+07:00</published><updated>2011-12-24T09:37:13.577+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liturgi'/><title type='text'>[Seri 2] Dasar Memimpin - Liturgie Kebaktian</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;&lt;span span=""   style="font-size:100%;color:#000000;"&gt;Halo,  kita berjumpa lagi dalam seri kepemimpinan mengenai Dasar Memimpin  Liturgie Kebaktian Gereja Eleos. Tanpa panjang lebar lagi mari kita  teruskan dan kita masih belajar dalam bagian pertama yaitu Pengertian  Ibadah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:Verdana;font-size:100%;color:#000000;" span=""   &gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;---&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di  dalam Yeremia 29: 13 :"Apabila kamu mencari Aku, maka kamu akan  menemukan Aku, apabila kamu menanyakan aku dengan segenap hati , Aku  akan memberi kamu menemukan Aku." Di sini dapat kita lihat bahwa jikalau  kita di dalam melaksanakan ibadah, kita mencari Allah maka kita akan  mengalami pengalaman ibadah itu. Apa yang dimaksudkan dengan mencari  Allah? yang dimaksud adalah dengan kita betul-betul merindukan,  mendambakan diriNya untuk untuk diri kita.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jadi  mencari Allah bukan sekedar mengerti berbagai macam teori mengenai  ibadah. Seseorang dapat saja melaksanakan ibadah tetapi tidak menemui  Allah. Seseorang dapat mengerti secara teori bagaimana melaksanakan  ibadah tetapi tetap seseorang tidak bisa menemukan Allah. Tetapi jika  seseorang di dalam melaksanakan ibadah mencari Dia (Allah), maka pasti  akan menemukan Dia. Jelas bahwa menemukan Allah itu bukan sekedar ibadah  tetapi esensinya adalah mencari akan diri Allah.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya  di dalam ibadah, Tuhanlah yang mengajak seseorang/umat untuk beribadah.  Dalam kitab suci, dapat ditemukan banyak contoh. Sebagai contoh seperti  tertulis di Keluaran 3:5-6; Kel 34:8; II Tawarikh 5:13-14; Kisah Para  Rasul 2:1-4&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Adapun  lingkup daripada ibadah itu pada satu segi dikatakan luas, pada lain  segi, sempit sekali, oleh karena itu selalu dikatakan:"Mari, Kita  berbakti kepada Tuhan melalui persembahan." sehingga betul-betul  tergantung dari suasana di mana seseorang berada. Seseorang dapat  berkata bahwa doa itu adalah suatu penyembahan, tetapi tidak selalu  bahwa doa itu suatu penyembahan. contoh: Persembahan itu adalah  penyembahan&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di  dalam ibadah dapat dilihat adanya sebuah hubungan/komunikasi atau lalu  lintas antara Allah dengan umatNya. Melalui ibadah, seseorang menerima  sesuatu dari Allah, karena Allah mencurahkan diriNya kepada umatNya; dan  pada saat yang bersamaan melalui ibadah ini, seseorang/umat Allah juga  memberikan sesuatu kepada Allah yaitu pemujaan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;bersambung...&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4679235888465264280-7295366283001112032?l=prazh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prazh.blogspot.com/feeds/7295366283001112032/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4679235888465264280&amp;postID=7295366283001112032' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/7295366283001112032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/7295366283001112032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prazh.blogspot.com/2011/12/seri-2-dasar-memimpin-liturgie.html' title='[Seri 2] Dasar Memimpin - Liturgie Kebaktian'/><author><name>prazh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01247479753862694266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gNWaDcx-39I/SwTGXlltmsI/AAAAAAAAAAo/uqAh_e6LEBA/S220/HS+BARU.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4679235888465264280.post-1313807490930846088</id><published>2011-12-23T22:29:00.003+07:00</published><updated>2011-12-24T09:32:34.981+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liturgi'/><title type='text'>[Seri 1] Dasar Memimpin - Liturgie Kebaktian</title><content type='html'>&lt;p  style="text-align: justify; font-family:courier new;"&gt;&lt;span span=""   style="font-size:100%;color:#000000;"&gt;Tulisan  ini meskipun ditujukan kepada anggota jemaat dari Gereja Eleos Pusat di Malang  Namun bila ada pembaca dari gereja lain ingin membaca dan belajar tentang tata  cara memimpin suatu liturgi juga dipersilahkan. Mari kita semua dapat  memimpin sebuah liturgi kebaktian dengan baik dan benar. Tulisan ini  akan dibagi menjadi beberapa bagian yang secara garis besar akan dibagi  menjadi 3 yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family: courier new;font-family:Verdana;font-size:100%;color:#000000;" span=""   &gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;1. Pengertian Ibadah&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;2. Liturgi Kebaktian&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;3. Liturgi Kebaktian Sinode Gereja Eleos Malang&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tanpa berpanjang lebar, marilah kita memulai seri ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;PENGERTIAN IBADAH&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Apa itu Ibadat atau Ibadah? marilah kita melihat artinya dalam beberapa bahasa.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ibadat dalam bahasa Ibrani disebut dengan "&lt;em&gt;shaha&lt;/em&gt;".  Kata ini memiliki arti sujud ke bawah atau menyembah dengan berlutut.  Kata ibadah sendiri mempunyai pengertian atau maksud, dimana kita harus  sembah sujud kepada Allah, bukannya dalam pengertian sembah sujud secara  fisik saja melainkan dengan hati yang terutama. Sembah sujud ini  menggambarkan suatu sikap takut akan Allah (Kejadian 24:48). Yang  dimaksudkan dengan takut akan Allah adalah bahwa kita itu sangat  mengormati Allah, menjunjung tinggi Allah.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam bahasa Yunani, ibadah disebut "&lt;em&gt;proskuneu&lt;/em&gt;"  yang memiliki arti mencium tangan dari orang yang kita hormati dan  istilah ini dipergunakan dalam Perjanjian Baru sebanyak 59 kali.  Sebagaimana orang yang mencium tangan menandakan arti cinta/kasih, maka  pada waktu beribadah kepada Tuhan, kita harus bisa menunjukkan suatu  sikap bahwa kita cinta Tuhan, bukan sekedar menghargai dan menghormati  Tuhan tetapi juga mencintai Tuhan. Jika membandingkan istilah ini dalam  perjanjian lama dan perjanjian baru, maka isinya lebih mendalam di  perjanjian baru. Mengapa? karena seseorang dapat saja menghargai dan  menghormati Tuhan tanpa adanya cinta/kasih. dan dalam perjanjian baru  "proskeneu"*&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; berarti orang yang kita muliakan juga orang  yang kita cintai/kasihi. dapat dikatakan ada unsur cinta di dalam  perjanjian baru. Dapat diambil sebuah kesimpulan selama kita beribadah  tetapi tidak ada cinta kepada Tuhan Allah maka sebenarnya kita belum  beribadat.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;*&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;Perjanjian Baru memakai bahasa Yunani dalam penulisannya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di dalam bahasa Inggris, ibadah disebut "&lt;em&gt;worship&lt;/em&gt;" yang memiliki makna bahwa kita sedang berhadapan dengan seseorang yang layak dipuji dan dihormati.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dari  beberapa istilah/arti di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa sewaktu kta  menyembah Tuhan, kita mengakui kelayakan Allah untuk kita hormati,  hargai dan cintai. Dalam Wahyu 4:10-11, dinyatakan bahwa 24 tua-tua  menyembah Allah karena mereka menganggap bahwa Tuhan itu layak menerima  puji-pujian, hormat dan kuasa.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: right;"&gt;wph2010&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4679235888465264280-1313807490930846088?l=prazh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prazh.blogspot.com/feeds/1313807490930846088/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4679235888465264280&amp;postID=1313807490930846088' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/1313807490930846088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/1313807490930846088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prazh.blogspot.com/2011/12/seri-1-dasar-memimpin-liturgie.html' title='[Seri 1] Dasar Memimpin - Liturgie Kebaktian'/><author><name>prazh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01247479753862694266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gNWaDcx-39I/SwTGXlltmsI/AAAAAAAAAAo/uqAh_e6LEBA/S220/HS+BARU.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4679235888465264280.post-7907923677358918716</id><published>2009-10-30T10:06:00.002+07:00</published><updated>2009-10-30T10:15:40.204+07:00</updated><title type='text'>Persekutuan</title><content type='html'>Tak dinyana ternyata sudah sangat lama saya tidak mengupdate blog di sini. Kali ini saya ingin menuliskan pengalaman mengenai persekutuan. Hari Rabu kemarin tepatnya tanggal 28 Oktober setelah sekian lama kl bisa dikatakan tahunan saya mengikuti persekutuan di rumah seorang teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persekutuan yang bagi saya adalah sama dari dulu sekarang maupun yang akan datang. Jumlah yang ikut tidak perlu banyak tetapi yang penting arti dan kualitas persekutuan tersebut. Dalam persekutuan kemarin bahasan yang dilemparkan oleh pendeta kami adalah mengapa kita bangga sebagai orang kristen? tetapi bagi saya inti dari persekutuan kemarin adalah kesaksian dari seorang jemaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesaksian yang berarti bagi saya secara pribadi. Kita harus dapat menjadi pria sejati, agar keluarga dipulihkan. keluaraga dipulihkan maka kota, kota dipulihkan maka provinsi, provinsi dipulihkan maka negara dipulihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya ambil dari kesaksian tersebut adalah bila ingin suatu perubahan maka harus dimulai dari diri kita sendiri. Kita harus fokus dan mengalahkan kemalasan, mengalahkan ketidakpercayaan terhadap diri sendiri, keinginan untuk berubah, dan yang penting adalah berdoa dan percaya bahwa Tuhan Yesus sanggup memulihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;thanks GOD untuk persekutuan kemarin. GBU all&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4679235888465264280-7907923677358918716?l=prazh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prazh.blogspot.com/feeds/7907923677358918716/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4679235888465264280&amp;postID=7907923677358918716' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/7907923677358918716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/7907923677358918716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prazh.blogspot.com/2009/10/persekutuan.html' title='Persekutuan'/><author><name>prazh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01247479753862694266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gNWaDcx-39I/SwTGXlltmsI/AAAAAAAAAAo/uqAh_e6LEBA/S220/HS+BARU.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4679235888465264280.post-179028895738247624</id><published>2009-01-28T08:58:00.005+07:00</published><updated>2009-01-28T09:24:10.283+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;HAMBA YANG SETIA DAN BIJAKSANA&lt;br /&gt;(MATIUS 24:45)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pdt. Young Hwa Hong, Th. M*&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pada suatu hari ada seorang tuan yang mempunyai banyak ladang dan hamba. Dia memanggil mereka dan memberi pesan untuk menggali tanah, menanam dan memeliharanya. Tuan ini akan pergi ke luar negeri, tetapi tidak memberitahu kapan ia akan pulang. Setelah tuan  itu pergi, hamba-hambanya memiliki respon yang berbeda-beda dalam menanggapi perintah tuan mereka. Respon mereka dapat kita lihat dalam dua kelompok. Kelompok yang pertama, mereka berpikir bahwa tuan mereka telah berpesan untuk bekerja dengan baik dan rajin meski tidak tahu kapan tuannya pulang. Maka mereka bekerja dengan keras, walau sinar matahari menyengat namun mereka memiliki semangat yang tinggi untuk menggali tanah, menanam tanaman-tanaman, dan menyiram serta memberi pupuk agar dapat tumbuh dengan subur.  Sebaliknya kelompok yang kedua memiliki pikiran yang berbeda.  Karena mereka tidak tahu kapan tuan mereka pulang, akhirnya mereka santai saja dan tidak memperhatikan perintah tuan mereka. Mereka berpikir, waktu masih lama, pekerjaan masih bisa dilakukan esok hari.  Mereka tidak mau menderita, susah dan tidak mau bekerja keras. Tiba-tiba tuan mereka pulang, dan memanggil semua hamba-hambanya. Dia berkata kepada mereka, “Aku tahu, kalian sudah melakukan perintahku dengan baik walaupun aku tidak mengawasi kalian. Karena itu hari ini aku akan memberi hadiah kepada kalian. Sekarang ikutlah aku.” Tuan itu membawa mereka ke ladang  dan berkata, “Hadiah dariku adalah ladang yang telah kalian kerjakan, sesuai dengan usahamu, itulah milikmu dan mulai hari ini aku membebaskan kalian.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sama seperti tuan dalam ilustrasi di atas, Tuhan Yesus Kristus sebelum meninggalkan dunia ini, sudah berjanji bahwa Dia pasti akan kembali.  Dan Dia sudah memberi tugas kepada hamba-hambaNya untuk meluaskan kerajaan Allah. Sebagai Hamba Tuhan, bagaimana kita menjalankan tugas tersebut?  Hal ini memberi pilihan kepada kita apakah kita mau menjadi hamba yang setia atau hamba yang malas. Tuhan Yesus memberi pesan ini setelah Ia mengajarkan tentang akhir zaman. Hal ini berarti bahwa Ia menginginkan hamba-hambaNya bekerja dengan giat, karena waktunya sudah dekat. Tuan yaitu Tuhan Yesus akan datang dan seorangpun tidak ada yang tahu. KedatanganNya menuntut pertanggungjawaban dari hamba-hambaNya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Seorang hamba yang setia memberikan makanan kepada seisi rumah tuannya pada waktunya (Mat 24:45). Menghadapi zaman akhir ini, salah satu tugas terpenting adalah mempersiapkan Firman Tuhan dan memberitakan  Firman itu. Banyak orang yang belum makan makanan rohani dan juga yang kekurangan gizi rohani. Ini berarti bahwa kita harus memberitakan Injil kepada orang yang belum beriman dan membina pertumbuhan iman orang percaya, agar siap memberitakan Firman Tuhan di akhir zaman ini. Maka hamba Tuhan harus pandai meramu dan memasak Firman Tuhan dengan enak serta penuh gizi. Untuk menjalankan tugas tersebut hamba Tuhan harus memperhatikan beberapa hal berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;,  sebagai hamba Tuhan harus mengerti keadaan zaman. Kalau kita melihat hal-hal yang terjadi di dunia ini, kita menyadari bahwa sekarang  sungguh zaman akhir. Tapi anehnya sama seperti orang-orang dunia, banyak hamba Tuhan yang  tidak sadar akan keadaan zaman ini (Mat 24:29). Karena tidak sadar, maka tidak ada persiapan (Mat 24:42-44). I Petrus 4:7 ”Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu...”  Hamba Tuhan harus sadar, yaitu melalui pembacaan dan perenungan Firman Tuhan dan doa. Inilah persekutuan dengan Tuhan. Bila persekutuannya akrab dengan Tuhan, maka dia pasti sadar tentang waktunya. Dia juga harus mempersiapkan dan membina jemaat agar mereka dapat mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, Hamba Tuhan harus setia. Hamba yang setia pasti percaya bahwa Tuhan pasti kembali. Ketika menghadapi kesusahan apapun dia akan tetap menjalankan tugas yang diberikan kepadanya. Walaupun Tuhan datangnya lama, dia tetap sabar dan terus menunggu sambil bekerja dengan giat. Di samping sebagai seorang hamba Tuhan yang setia, dia juga adalah seorang yang rendah hati. Walaupun dia bekerja keras, namun dia melakukannya untuk kemuliaan Tuhan dan bukan untuk mencari keuntungan sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, sebagai hamba Tuhan harus bijaksana. Pada zaman akhir banyak ajaran yang aneh–aneh dan menyesatkan. Para penyesat ini berusaha menggoda dan menyesatkan jemaat Allah. Maka sebagai hamba Tuhan harus memiliki kebijaksanaan dari Tuhan. Waktu melaksanakan pekabaran Injil dan mengajar jemaat, kita  memerlukan hikmat dari Tuhan. Bila hamba Tuhan merasa kurang bijaksana, maka ia dapat meminta kepada Tuhan (Yak 1:5).  Dalam Amsal  9:10 ”Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan dan mengenal Yang Maha Kudus adalah pengertian.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Di zaman terakhir ini hamba Tuhan membutuhkan sadar “waktu” dan “tugas” dari Tuhan. Hamba Tuhan yang setia dan bijaksana  hidup hanya untuk memuliakan Tuhan. Soli Deo Gloria!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Note:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;*Pdt. Young Hwa Hong, Th. M adalah salah satu dosen di STT SALEM dan aktif mengajar di beberapa STT di Malang serta melayani di Gereja Eleos Surabaya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4679235888465264280-179028895738247624?l=prazh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prazh.blogspot.com/feeds/179028895738247624/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4679235888465264280&amp;postID=179028895738247624' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/179028895738247624'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/179028895738247624'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prazh.blogspot.com/2009/01/hamba-yang-setia-dan-bijaksana-matius.html' title=''/><author><name>prazh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01247479753862694266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gNWaDcx-39I/SwTGXlltmsI/AAAAAAAAAAo/uqAh_e6LEBA/S220/HS+BARU.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4679235888465264280.post-503543923387095405</id><published>2009-01-23T14:32:00.002+07:00</published><updated>2009-01-23T14:46:43.721+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;                         METODE PENGGEMBALAAN YANG EFEKTIF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                HARYONO*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arti istilah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gembala: Pemimpin dan pelayanan. Penekanan ilmu pastoral tradisional lebih menekankan aspek ke-hamba-an.[i] Istilah gembala dan menggembalakan adalah istilah yang dipakai Yesus dan diamanatkan-Nya kepada para murid-Nya. [ii] Teristimewa dalam hal ini kepada Petrus (Yohanes 21:15-17). Meninjau dari konteks arti menggembalakan dengan latar belakang penggembala domba di Palestina, maka dengan mudah dapat dipahami bahwa menggembalakan itu ada unsur kepemimpinan karena memimpin domba ke padang rumput penggembalaan, serta unsur merawat, melayani dan menjaga domba dari serangan hewan buas. [iii]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Unsur memimpin dan melayani ini nampak jelas pada Tuhan Yesus. Ia adalah seorang pemimpin sekaligus juga seorang pelayan. [iv] Sebagai seorang pemimpin, Yesus memimpin dua belas (12) murid. Sebagai seorang pelayanan Yesus membasuh kaki ke dua belas murid. Yesus adalah figur pelayanan yang penuh kasih dan rendah hati. Yesus berkata: “Aku datang untuk mencari yang sesat, melayani dan bukan untuk dilayani.” (Markus 10:45).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses penggembalaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Suatu proses penggembalaan dapat terjadi bila ada dua pihak yaitu pihak yang menggembalakan dan pihak yang digembalakan. Efektif tidaknya suatu hubungan penggembalaan tergantung dari beberapa hal yang melibatkan keduanya. Umpamanya saling mempercayai, saling menghargai, saling membuka diri. Dapat dikatakan bahwa sikap pribadi gembala dapat sangat berpengaruh dalam proses terhadap individu yang digembalakannya. Selain sikap pribadi, kemampuan dan ketrampilan, maka penting pula kedewasaan dari pihak gembala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode yang dapat membantu proses keberhasilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. gembala memiliki sikap dan sifat hangat terhadap individu yang digembalakannya. Artinya bahwa kehangatan dari gembala itu dapat menimbulkan perasaan diterima, perasaan aman, perasaan nyaman dari individu yang digembalakannya. Kondisi seperti ini memungkinkan terjalinnya hubungan yang erat antara gembala dan individu yang digembalakannya.&lt;br /&gt;   2. sikap dan sifat gembala yang ramah. Suasana yang sedemikian ini menyebabkan individu yang digembalakan tidak segan, tidak enggan/sungkan untuk datang meminta pertolongansetiap ada kesempatan. Kewajaran dari sikap dan sifat ramah inilah sangat menentukan. Karena dapat meniadakan hambatan yaitu sikap curiga dari individu yang digembalakannya.&lt;br /&gt;   3. sikap dan sifat gembala yang dapat dipercaya. Adanya sikap dan sifat ini membuka kemungkinan bagi individu yang digembalakan untuk dengan bebas mengemukakan masalahnya, kesulitannya, pergumulannya dan apapun yang dialami, yang dirasakan tanpa ada perasaan takut atau khawatir kalau-kalau rahasianya disebarluaskan.&lt;br /&gt;   4. sikap daan sifat kasih gembala, sebagaimana yesus mengasihi domba-domba-Nya. Suasana dan hubungan kasih yang sedemikian ini sangat menolong terciptanya dan terbinanya hubungan pada tingkat emosional dan mempunyai andil bagi keberhasilan proses penggembalaan.&lt;br /&gt;   5. sikap dan sifat peka. Yang dimaksudkan adalah kepekaan terhadap apa yang ada dibalik perkataan, dibalik sikap dan perasaan, serta kebutuhan dari individu yang digembalakan. Kepekaan terhadap orang lain yang digembalakan ini memang dapat dikembangkan melalui latihan.&lt;br /&gt;   6. sikap dan sifat luwes/fleksibel. Luwes bukan berarti tidak memiliki pendirian, tetapi maksudnya ialah mengacu kepada kesanggupan untuk menyesuaikan diri dengan baik secara benar, tepat, dan cepat. Sikap dan sifat ini sungguh-sungguh dapat membantu dalam proses penggembalaa, karena dengan mudah gembala yang luwes dapat memasuki keberadaan individu yang digembalakan.&lt;br /&gt;   7. sikap dan sifat ulet atau tabah, tidak gampang menyerah, berputus asa. Keberadaan seperti ini diperlukan oleh gembala apabila diperhadapkan dengan berbagai persoalan yang berat sekalipun, akan dapat mengatasinya bila dilakukan dengan ulet dan tabah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih, dasar penggembalaan yang sejati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Kasih itu penuh perhatian, kasih itu ikhlas, tekun, dapat dipercaya, menerima dan menghargai orang lain, memahami orang lain, dan mementingkan orang lain. Adapun kasih itu tidak mencari kepuasan diri sendiri, tidak menjelekkan orang lain, tidak iri hati, tidak takut, tidak mempertahankan diri dan tidak menggunakan orang lain semata-mata untuk kepentingan diri sendiri. Kasih itu tidak pernah gagal, bahkan apabila disertai dengan pemahaman dan penghayatan akan mampu membimbing orang lain dari tempat gelap menuju ke tempat yang terang. Dari kegagalan kepada keberhasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Pesan tuhan yesus kepada petrus yang tertulis di injil yohanes pasal 21, jelas disebutkan :” gembalakanlah domba-domba-ku.” Dalam hal ini petrus bertindak sebagai gembala, sebagai pemimpin dan pelayanan bagi komunitas kristen sangatlah jelas. Rasul paulus pun nampak jelas figur dari seorang gembala. Kita dapat belajar bagaimana ia memimpin, mengajar, menggembalakan petobat baru kepada kedewasaan akan pengenalan yesus kristus sebagai tuhan dan juruselamat. Rasul paulus berada, tinggal bersama-sama dengan komunitas baru seperti di korintus dan efesus untuk merawat kerohanian mereka. Sebagai bapa rohani ia mengasuh mereka, karena memang tujuan penggembalaannya jelas.[v] Paulus memimpin domba kristus dan tatkala tidak bersama mereka, paulus menyurati mereka dengan surat-surat yang kini disebut sebagai surat-surat pastoral. [vi] Jelaslah bahwa penggembalaan merupakan proses yang berlangsung terus-menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepustakaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Terarah Sungguh Berpijak Teguh. Institut Alkitab Tiranus Bandung, 2006.&lt;br /&gt;   2. Paper ceramah, Kepemimpinan Pastoral, A.E. Hope, Cilember 1997.&lt;br /&gt;   3. Meneladani Jejak Yesus sebagai Pemimpin, A.B. Susanto, Yogya: Yayasan Andi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[i] Daudi Rahmat: Terarah Sungguh Berpijak Teguh, Kumpulan Pemikiran Teologis dalam Rangka ulang tahun ke-40 tiranus, hal. 245, bandung: 12 juli 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[ii] Ibid, hal. 245&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[iii] Ibid, hal. 245&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[iv] Ibid, hal. 245&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[v] Daudi Rahmat: Terarah sungguh berpijak teguh, Kumpulan pemikiran teologis dalam rangka ulang tahun ke-40 tiranus, hal. 247, bandung: 12 juli 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[vi] Ibid, hal. 247.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note:&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;* Pdt. Haryono, Th.M sekarang mengajar Theologia Praktika di ITHASIA (dulu: STT IAA) Pacet dan menjabat sebagai Pembantu Rektor 2&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4679235888465264280-503543923387095405?l=prazh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prazh.blogspot.com/feeds/503543923387095405/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4679235888465264280&amp;postID=503543923387095405' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/503543923387095405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/503543923387095405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prazh.blogspot.com/2009/01/metode-penggembalaan-yang-efektif.html' title=''/><author><name>prazh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01247479753862694266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gNWaDcx-39I/SwTGXlltmsI/AAAAAAAAAAo/uqAh_e6LEBA/S220/HS+BARU.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4679235888465264280.post-4801429695613977179</id><published>2009-01-23T14:25:00.005+07:00</published><updated>2009-01-23T14:51:54.559+07:00</updated><title type='text'>HAK UNTUK MELEPASKAN HAK</title><content type='html'>&lt;div align="Center"&gt;HAK UNTUK MELEPASKAN HAK*&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="Center"&gt;Sonya Widjaya, B.A.**&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Adakah yang lebih merendahkan martabat suatu bangsa daripada mendapat julukan sebagai bangsa yang paling korup di seluruh dunia? Dan yang menyebabkan keadaan lebih buruk lagi ialah bahwa itu bukan sekedar julukan, tetapi kenyataan yang benar-benar kasat mata. Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S Poerwadarminta mendefinisikan kata ‘korup’ sebagai busuk, buruk, suka menerima uang sogok, memakai kekuasaan untuk kepentingan sendiri, dsb., dan ‘korupsi’ sebagai perbuatan yang busuk seperti penggelapan uang,  penerimaan uang sogok dsb. Dengan jujur kita harus mengakui bahwa korupsi (=perbuatan buruk) telah menjadi budaya bangsa kita. Dari pucuk pimpinan sampai pada rakyat jelata yang paling bawah rasanya tidak lagi ada rasa malu atau rasa bersalah untuk melakukan perbuatan buruk dan busuk demi kepentingan dan pemuasan diri. Menyerobot milik orang lain, entah itu uang, harta benda, waktu, kedudukan, ruas jalan, bahkan nyawa sekalipun sudah menjadi gaya hidup. Dengan kata lain orang merasa sah-sah saja dan berhak untuk berbuat yang demikian terhadap sesamanya.&lt;br /&gt;Baru-baru ini saya sungguh terperangah ketika di pasar saya disapa oleh seorang pria pengemis setengah baya. Tanpa basa basi ia menyorongkan tangannya kedepan muka saya sambil berkata dalam bahasa Jawa ngoko seolah-olah menuntut haknya, “Ayo, aku ke ‘ono duit” (Ayo, beri saya uang). Saya yang dibesarkan dalam masyarakat Jawa tahu benar bahwa dari segi orang Jawa dan bahasa Jawa, pemakaian bahasa Jawa ngoko kepada orang yang tidak dikenal jauh dari kesantunan bahkan bisa dianggap melecehkan. Selain itu pengemis ini memulai kalimatnya dengan kata perintah ‘ayo,’ satu kata yang biasanya dipakai oleh orang tua kepada anaknya, atau atasan terhadap bawahan atau di antara sesama teman. Masih dalam keadaan keheranan saya memberikan duit yang ia minta sambil menduga-duga, saya ini dianggap apanya: anaknya, bawahannya, ataukah temannya?  Sambil menyeringai dan tanpa mengucap terima kasih ia ngeloyor pergi. Ia puas, karena sudah mendapatkan apa yang diinginkan, tapi saya menyimpan rasa terenyuh dihati – “Ah, pak pengemis tua yang malang ini kembali menjadi bukti betapa bangsa ini sudah amat rendah martabatnya.” Harian Kompas tertanggal 18 Oktober 2005 berkenaan dengan kenaikan harga BBM menulis tentang hal ini di bawah judul “Harga Diri Tak Bernilai.”  Kalimat pembuka berbunyi, “Kenyataan bahwa masyarakat berlomba-lomba untuk mendapatkan status miskin, menunjukkan betapa rasa malu individu telah hilang ketika hal itu dilakukan secara kolektif. Harga diri tidak lagi jadi pertimbangan utama dan kehilangan nilai di tengah masyarakat yang hidup dalam pragmatisme.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;Beberapa contoh lain: Ada tukang parkir yang merasa berhak menaikkan ongkos parkir dua kali lipat semata-mata karena hari Lebaran tiba. Ada orang-orang muda yang seyogianya menjadi pemimpin masa depan bangsa yang dengan arogan mengebut sepeda motornya dengan lampu besar menyala di siang hari dengan gaya seorang penguasa jalan yang berhak menyerobot ke sana ke mari, memotong jalan orang lain, membahayakan orang lain, tanpa sedikitpun berpikir bahwa jalan yang mereka lalui itu adalah jalan umum dan dibangun demi kepentingan umum, bukan kepentingan individu. Ada pula segolongan anak muda yang mau menjadi pengatur lalu lintas ketika terjadi kemacetan dengan tujuan mendapat uang dengan mudah tanpa harus bekerja keras. Sebagai polisi dadakan mereka memungut ongkos dari pengguna jalan yang bermobil. Takut mobil mereka dirusak atau sekedar mau menghindari tindakan kekerasan (sebab itulah yang biasanya terjadi bila keinginan segerombolan anak muda tidak dituruti) banyak pengendara mobil memberikan uang mereka kepada penodong-penodong terselubung ini. Sebetulnya perilaku mereka menunjukkan adanya kreativitas,  tapi kreativitas yang korup. Dalam bahasa Alkitab disebut, “Mereka pintar untuk berbuat jahat, tetapi untuk berbuat baik mereka tidak bisa” (Yeremia 4:22b).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;Inilah sedikit contoh dari perilaku korup masyarakat bawah dan menengah yang dengan mudah kita jumpai setiap hari di sekitar kita. Jangan sebut lagi perilaku korup kalangan petinggi bangsa ini. Kita tinggal membaca koran atau mengikuti berita dan acara yang ditayangkan stasiun-stasiun televisi  untuk menyimpulkan bahwa bangsa ini benar-benar seperti julukannya: korup.&lt;br /&gt;Yang menggelitik hati saya ialah mengapa kebusukan bisa merajalela sedemikian rupa padahal kekristenan sudah ada di bumi Indonesia jauh sebelum kemerdekaan tahun 1945?  Ada apa dengan orang Kristen Indonesia?  Seharusnya dengan adanya orang-orang Kristen, pengikut Kristus, yang oleh Tuhan Yesus dengan begitu jelas dan tegas didefinisikan sebagai garam dunia dan terang dunia (Matius 5:13-16) kebusukan dapat dicegah dan diberantas, paling tidak diminimalkan. Namun apa yang seharusnya terjadi ternyata bukannya bertambah baik akhlak dan perilakunya, sebaliknya bertambah busuk hingga pada keadaan seperti sekarang ini. Ketika di awal tulisan ini saya katakan bahwa korupsi atau perbuatan buruk telah menjadi budaya bangsa, yang saya maksudkan termasuk juga budaya orang Kristennya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ada apa dengan kekristenan Indonesia? Mengapa kebusukan malah menjadi-jadi di tengah makin bertambahnya jumlah orang yang mengaku diri Kristen, maraknya orang mendirikan sekolah-sekolah Alkitab, membangun gedung-gedung gereja, membentuk yayasan-yayasan dan lembaga-lembaga pelayanan Kristen? Bukankah ini suatu ironi? Lebih-lebih karena kebusukan itupun begitu transparan dilakukan orang Kristen, entah itu petinggi gereja, hamba-hamba Tuhan ataupun jemaat biasa. Sebut saja peristiwa yang terjadi dalam tubuh sebuah gereja Protestan besar yang sampai mencuat di media masa, atau pertarungan di lingkungan pendidikan teologia di Jawa Timur di mana para mahasiswa calon hamba Tuhan berdemo melawan hamba Tuhan pimpinan sekolah mereka sendiri dengan melibatkan orang-orang bukan Kristen. Ada berapa banyak hamba Tuhan, pendeta, penginjil, majelis dan aktivis gereja, guru dan pendidik Kristen yang bahkan di lingkungan Kristen sendiri gagal mencegah atau menghentikan kebusukan yang sedang terjadi karena mereka sendiri hidup dalam kebusukan? Bagaimana mungkin orang-orang Kristen seperti itu diharapkan bisa mencegah dan menghentikan kebusukan yang sedang terjadi di luar lingkup Kristen?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dalam Matius 5:13,14,16 Tuhan Yesus berkata, “Kamu adalah garam dunia ...  kamu adalah terang dunia . . . Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Perkataan Tuhan Yesus ini merupakan dalil yang mutlak: orang hanya bisa memuliakan Bapa kita dalam Yesus Kristus bila ia melihat perbuatan baik orang Kristen! Daniel, salah satu pahlawan iman Perjanjian Lama, adalah contoh kongkrit tentang apa yang dimaksud Tuhan Yesus di sini. Sebagai pejabat negara di negeri kafir hidup Daniel bersih, sarat dengan perbuatan baik meskipun ia berada di lingkungan yang korup selama berpuluh tahun. Begitu bersih dan baik perbuatannya – “terangnya bercahaya di depan orang-orang yang korup itu “ – sehingga mau tidak mau mereka melihatnya. Dan ketika orang-orang korup itu ingin menjatuhkan Daniel, karena iri hati dan dengki Alkitab menyaksikan, “ . . . tetapi mereka tidak mendapatkan alasan apapun atau suatu kesalahan, sebab ia setia dan tidak ada didapati sesuatu kelalaian atau sesuatu kesalahan padanya “ (Daniel 6:5b). Akibat dari perbuatan baik yang transparan ini ialah persis seperti yang Tuhan Yesus katakan:  orang-orang kafir itu, mulai dari raja mereka, memuliakan Allah Daniel yang adalah juga Allah Bapa kita di sorga. Daniel 2:47;  4:37 dan 6:27 mencatat kata-kata pemuliaan kepada Allah kita yang sungguh luar biasa mengingat bahwa itu keluar dari mulut orang kafir: “Sesungguhnyalah, Allahmu itu Allah yang mengatasi segala allah dan Yang berkuasa atas segala raja, dan Yang menyingkapkan rahasia-rahasia . . . ;“Jadi sekarang aku, Nebukadnezar, memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Sorga, yang segala perbuatanNya adalah benar dan jalan-jalanNya adalah adil . . .”; “. . . ku berikan perintah, bahwa di seluruh kerajaan yang kukuasai orang harus takut dan gentar kepada Allahnya Daniel, sebab Dialah Allah yang hidup, yang kekal untuk selama-lamanya. . . “&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Saya percaya, adanya begitu banyak orang Indonesia yang tidak memuliakan Allahnya orang Kristen tetapi sebaliknya malah menghujatNya, itu disebabkan oleh karena mereka tidak melihat perbuatan baik orang-orang Kristen di sekitar mereka. Selama 60 tahun kemerdekaan bangsa ini, orang-orang Kristennya sudah gagal melakukan perbuatan baik yang Tuhan Yesus maksudkan. Roma 2:17-24, dengan sangat jelas memaparkan kegagalan itu dan akibat yang ditimbulkannya. Oleh ilham Roh Kudus Rasul Paulus menegur keras orang-orang Yahudi pada zamannya yang menyebabkan mana Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain, “. . . jika kamu menyebut dirimu orang Yahudi dan bersandar kepada hukum Taurat, bermegah dalam Allah dan tahu akan kehendakNya . . . dapat tahu mana yang baik dan mana yang tidak, dan yakin, bahwa engkau adalah penuntun orang buta dan terang bagi mereka yang di dalam kegelapan, pendidik orang bodoh, dan pengajar orang yang belum dewasa . . . Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar : “Jangan mencuri” mengapa engkau sendiri mencuri? Engkau yang berkata : “Jangan berzinah”  mengapa engkau sendiri berzinah? Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala? Engkau bermegah atas hukum Taurat,  mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu? Seperti ada tertulis: “Sebab oleh karena kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain.”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Firman Allah sudah memvonis umatNya: “Sebab oleh kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain.” Pada zaman para nabi dan para rasul, nama Allah dihujat orang karena mereka melihat bukannya perbuatan baik tapi perbuatan busuk umat Allah; demikian pula sekarang pada zaman ini, nama Allah dihujat mayoritas orang Indonesia oleh karena mereka tidak melihat perbuatan baik orang Kristen Indonesia. Orang Kristen Indonesia tidak melakukan apa yang ia katakan dan ajarkan dari Alkitab; ia tidak mengajar dirinya sendiri!  Ia sibuk membangun proyek ini dan itu (yang katanya untuk kemuliaan Allah) tapi ia sama sekali tidak membangun dirinya berdasarkan Firman Allah yang kudus. Orang tidak melihat bahwa orang Kristen mempunyai roh yang luar biasa (Daniel 6:4),  tidak pula melihat perbuatannya yang baik yang bercahaya dengan begitu terangnya di tengah gelapnya lingkungan yang korup. Orang tidak akan memuliakan Bapa kita yang di sorga hanya dengan melihat proyek-proyek besar yang dibangun orang Kristen, tapi mereka pasti akan memuliakan Bapa kita di sorga bila mereka melihat perbuatan orang Kristen yang baik, demikian Firman Kristus.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maka dalam terang Firman Allah tadi, keterpurukan bangsa kita saat ini bukan semata-mata kesalahan pemerintah Orde Lama dan Orde Baru, tetapi lebih-lebih adalah kesalahan orang Kristen Indonesia yang gagal memfungsikan diri sebagai garam dan terang dunia seperti yang Tuhan Yesus kehendaki. Garam dan terang dunia hanya menjadi wacana, tema kotbah, dan konsep kristiani yang sangat indah. Bukannya Indonesia kekurangan Alkitab, buku pelajaran, dan bacaan Kristen yang baik, juga bukannya kekurangan pengkotbah yang pintar dan hebat, penginjil yang bersemangat, majelis dan aktivis yang handal, jemaat yang berbakat, namun yang sangat kekurangan ialah adanya orang-orang Kristen kepunyaan Allah sendiri yang rajin berbuat baik (Titus 2:14).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;Perbuatan baik orang-orang Kristen, bukan kata-kata baik yang diperlukan untuk memberi bangsa ini masa depan yang lebih baik. Lihat betapa bangsa kita, termasuk orang Kristennya, begitu pandai berkata-kata. Koran-koran penuh dengan kata-kata bagus, acara-acara televisi penuh dengan talk show, wawancara, diskusi, paparan ide dari orang-orang berpendidikan tinggi dan berwawasan luas. Gereja pun tidak mau ketinggalan dengan menggunakan kata-kata untuk “memajukan” anggotanya: jemaat diberi kotbah,  kotbah,  dan kotbah dengan bermacam topik dan tema, diajak rapat,  rapat, dan rapat, tidak ada habisnya,  kemudian ada diskusi, ceramah, dan talk show pula . . . tetapi apakah selama 60 tahun merdeka keadaan bangsa kita menjadi lebih baik?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sesungguhnya orang Kristen ikut bertanggung jawab atas keadaan bangsa kita yang menyedihkan saat ini. Atau kita tidak mau tahu dan mau ikut-ikutan mencuci tangan seperti Pontius Pilatus pada zaman Tuhan Yesus atau mengikuti pejabat-pejabat negara kita yang suka melempar tanggung jawab dan mencari kambing hitam bila terjadi sesuatu yang buruk?  Yang jelas, menjadi garam dan terang dunia yang terwujud dalam perbuatan yang baik, tidak mungkin terjadi jika orang Kristen hanya berani mengikut manusia tetapi tidak berani mengikut Tuhan Yesus dalam arti yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;Panggilan sekaligus perintah Tuhan Yesus begitu jelas, “Ikutlah Aku.” “Aku” di sini ialah The Great I AM, I AM  Yang Agung.  “Am” adalah  kata bahasa Inggris dalam bentuk “simple present tense” untuk kata ganti orang pertama yang berasal dari kata kerja “be.” “Be” adalah kata kerja yang menyatakan keadaan atau keberadaan. Bahasa Indonesia tidak mempunyai dan tidak mengenal kata seperti “be” ini sehingga agak sulit bagi pengguna bahasa Indonesia untuk memahami dengan setepatnya pemakaian kata kerja ini. Lagi pula bahasa Indonesia tidak mengenal “tense,” bentuk kata kerja yang menentukan waktu. “Simple present tense” digunakan untuk menyatakan sesuatu yang merupakan kebenaran atau dalil yang tidak berubah, yang berlaku dulu, sekarang, dan di waktu yang akan datang atau sepanjang masa. Jadi apa yang Allah nyatakan tentang diriNya ketika Ia memperkenalkan namaNya kepada Musa, “I AM THAT I AM” (Keluaran 3:14 KJV).  Ia berkata ,”Aku selamanya selalu benar, Aku tidak berubah, Aku tidak mengenal dulu atau yang akan datang, Aku selalu ada, hadir, sekarang.” Mengingat arti yang terakhir ini Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan nama Allah ini dengan “AKU ADALAH AKU ADA” (BIS). Namun kita harus ingat bahwa “ada” tidak mempunyai muatan makna seperti “am” dalam bahasa Inggris. Jadi ketika kita membaca “ada” kita harus berpikir “am” yang artinya lebih dari sekedar ada, sehingga kita mempunyai “holy fear,”  takut yang kudus kepada I AM seperti yang Musa miliki saat AKU ADA memanggil, memerintah dan mengutus dia untuk menjadi pelepas bangsanya yang waktu itu berada dalam keadaan sangat sengsara dan menderita oleh para pengerah mereka.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kitapun sekarang mendengar panggilan dan perintah yang sama dari I AM.  Nama itu menyatakan kuasa, kekuatan, dan harapan mulia bagi kita dan bangsa kita yang sedang dalam keadaan yang sangat burut, lemah, dan tanpa pengharapan masa depan karena besarnya pelanggaran, kesalahan, dan dosa yang telah kita tumpuk selama puluhan tahun ini. Apakah kita mempunyai “holy fear,” seperti Musa kepada I AM, apakah kita mau percaya dan taat seperti Musa untuk menjadi pelepas bangsa kita?&lt;br /&gt;Sebentar lagi kita memperingati dan merayakan Natal. Satu peristiwa luar biasa yang hanya terjadi satu kali dalam sejarah manusia dan kekekalan ketika I AM menjadi manusia dan diam di antara kita (Yohanes 1:14). Dialah Yesus Kristus, Anak Tunggal Bapa, yang memanggil dan memerintah barang siapa yang mau mendengar, “Ikutlah Aku,” “Ikutlah I AM. ” Selanjutnya dalam Yohanes 8:12 Yesus Kristus lebih jauh menguak identitasnya, “Akulah terang dunia, barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pertanyaannya ialah apakah semua orang Kristen Indonesia adalah pengikut Tuhan Yesus yang sejati?  Kesejatian ini penting dan tidak bisa ditawar.  Pengikut Tuhan Yesus yang sejati ialah semua orang yang bertobat, yang sudah berhenti mengikuti dunia dan dosa yang ada di dalamnya oleh karena telah dilahirkan kembali dan menerima Roh yang menjadikan mereka anak-anak Allah; semua orang yang oleh Roh itu dapat berseru : “Ya Abba, ya Bapa!,” sebab Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh mereka bahwa mereka adalah anak-anak Allah (Roma 8:15,16). Semua orang yang memiliki kesaksian ini dalam hati dan hidup mereka,  yang yakin bahwa mereka adalah orang-orang kepunyaan Allah sendiri, semua orang yang seperti inilah  pengikut Yesus Kristus yang sejati. Maka berdasarkan janjiNya,  mereka ini mempunyai terang hidup yang berasal dari Diri Yesus Kristus sendiri dan siap untuk menerangi sekitarnya yang gelap, berbuat baik kepada sesamanya yang masih dalam dosa.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;Orang-orang seperti ini jelas sekali tentang identitas diri mereka. Semua pengikut Tuhan Yesus yang sejati adalah garam dan terang bagi bangsa dan negaranya. Perhatikan bahwa dalam Matius 5:13-16 Tuhan Yesus dengan jelas menyatakan identitas pengikutNya:  kamu adalah garam dunia; kamu adalah terang dunia. Dalam bahasa Inggris dipakai kata kerja ‘be’ dalam simple present tense yang mempunyai arti yang sudah saya jabarkan di depan:  you are the salt of the earth; you are the light of the world. Ini adalah kebenaran yang tidak berubah, dulu, sekarang dan di masa yang akan datang. Tuhan Yesus tidak berkata, “Kamu bakal menjadi garam dan terang dunia nanti kalau kamu sudah lebih dewasa dan berpengalaman.” Tidak! Tapi setiap orang Kristen pengikut Tuhan Yesus yang sejati entah ia sudah lama atau baru saja mengikut Tuhan Yesus adalah garam dan terang. Berarti semua orang bisa menjadi garam dan terang bagi sekitarnya. Orang tidak perlu berpendidikan tinggi, punya kedudukan atau bakat-bakat yang wah untuk bisa berfungsi sebagai garam dan terang. Ia  tinggal mengikut Tuhan Yesus, artinya ikut melakukan apa yang Tuhan Yesus sudah lakukan selama Ia hidup di antara manusia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;Apa yang Tuhan Yesus lakukan? Apa esensi yang ada dibalik perbuatan maha baik Tuhan Yesus yang rela mati bagi orang berdosa yang adalah musuhNya dan menanggung murka Allah yang dahsyat yang membuatNya begitu ketakutan sehingga peluhNya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan di tanah sampai-sampai seorang malaikat datang dari sorga untuk memberi kekuatan kepadaNya? (Lukas 22: 43,44) Apa yang membuatNya rela berkorban sedemikian besar bagi orang-orang durhaka yang telah menghianati dan menyakiti hatiNya yang kudus?.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ibrani 5:8 menyatakan bahwa “. . . sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah dideritaNya.”  Semua perbuatan Kristus yang maha baik itu menjadi buah dari ketaatanNya yang mutlak kepada BapaNya. Namun ketaatanNya yang mutlak ini tidak pernah akan terwujud bila sebelumnya Tuhan Yesus tidak rela melepaskan hak pribadiNya sebagai Allah. Filipi  2:6,7 mengungkapkan perbuatan Anak Allah yang amat mulia:“Kristus Yesus . . . walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri . . . “ MELEPASKAN HAK PRIBADI – inilah dasar semua perbuatan baik!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;Indonesia dan dunia pada umumnya selalu mempersoalkan HAM, Hak Asasi Manusia, tetapi Allah demi keselamatan manusia sama sekali tidak mempersoalkan hak asasi ke-Allah-anNya! Saya percaya Indonesia akan jauh lebih baik bila manusia Indonesia dan dalam hal ini orang Kristen Indonesia harus berada di barisan depan, tidak lagi menuntut haknya tetapi mendahulukan melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain. Bayangkan transformasi apa yang bakal terjadi bila suami mendahulukan kepentingan istri dan istri mendahulukan kepentingan suami, orang tua mendahulukan kepentingan anak dan anak mendahulukan kepentingan orang tua, pendeta mendahulukan kepentingan jemaat, dan jemaat mendahulukan kepentingan pendeta, guru mendahulukan kepentingan murid dan murid mendahulukan kepentingan guru, atasan mendahulukan kepentingan bawahan dan bawahan mendahulukan kepentingan atasan, pemerintah mendahulukan kepentingan rakyat dan rakyat mendahulukan kepentingan pemerintah . . . rasanya ini benar-benar seperti sorga di bumi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;Wahai orang Kristen Indonesia, melepaskan hak pribadi demi melakukan perbuatan baik untuk kepentingan orang lain sekalipun ia musuh, itulah intisari menjadi garam dan terang dunia. Tidak menuntut hak meskipun punya hak, tapi melepaskan hak, itulah yang diteladankan Yesus Kristus Terang Dunia yang Sejati. Siapkah kita mengikut Dia?&lt;br /&gt;Tetapi masih ada satu dasar penting yang tidak boleh kita abaikan, yaitu natur Tuhan Yesus yang rendah hati luar biasa. Kerendahan hatiNya inilah sebetulnya yang memicu dua perbuatan maha baik dan mulia di atas: melepaskan hak dan belajar taat (Filipi 2:8). Rendah hati bukanlah sifat dasar manusia yang telah jatuh dalam dosa, tetapi rendah hati Kristus menjadi bagiannya ketika ia mengalami kelahiran baru. Jadi sebetulnya kita yang sudah menerima anugerah dilahirkan kembali menjadi anak Allah dan dipersekutuan dengan Kristus (I Korintus 15:22) tidak punya alasan apapun untuk berkata tidak bisa meneladani kerendahhatian Tuhan Yesus sebab dengan adanya persekutuan dengan Kristus kerendahan hatiNya menjadi milik kita juga.&lt;br /&gt;Siapkah kita mengikut Kristus? Jika kita memang pengikutNya yang sejati tentu kita siap sedia, sebab ada tertulis ,”. . . supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah yang telah kamu terima“ (II Korintus 6:1). Lagi pula setiap ketidaktaatan akan dibalas Tuhan dengan setimpal. Ibrani 2:3 mengingatkan “Bagaimana kita akan luput,  jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu. . . “&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;Apakah suatu saat nanti bangsa kita tidak lagi menghujat Allah dalam Yesus Kristus?  Tidak lagi mempunyai martabat yang korup?  Saya percaya itu, tapi dengan satu syarat. Semua orang Kristen Indonesia yang sejati mulai sekarang dan mulai dengan diri sendiri harus sadar dan bangga memiliki hak istimewa menjadi garam dan terang bagi bangsanya. Untuk menjalankan hak istimewa ini, ia dengan rendah hati harus rela melepaskan hak pribadinya dan belajar taat meskipun dalam penderitaan sama seperti Kristus. Maka Firman Tuhan yang tidak pernah berbohong akan kita alami: orang Indonesia akan memuliakan Bapa kita di sorga sebab mereka semua melihat perbuatan kita yang baik.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;Harapan saya, apa yang sudah saya tuangkan di sini jangan lagi-lagi menjadi wacana saja. Kita harus berhenti menjadi orang Kristen yang hanya pandai membaca dan berkata-kata. Kita harus menjadi orang Kristen Indonesia yang rajin dan pandai berbuat baik layaknya orang-orang kepunyaan Allah sendiri. Inilah yang akan menghentikan pembusukan yang sedang berlangsung dan menyembuhkan bangsa kita dari sifat dan perilakunya yang korup.&lt;br /&gt;Saya mau menutup tulisan saya dengan mengutip sebuah sajak karangan Mabel Williamson sebagai bahan renungan kita bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IA TIDAK MEMPUNYAI HAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak mempunyai hak untuk mendapatkan tempat tidur yang empuk dan makanan yang berlimpah&lt;br /&gt;Ia tidak mempunyai hak untuk mempunyai rumah sendiri, tempat di mana Ia mencari kenikmatan&lt;br /&gt;Ia tidak mempunyai hak untuk memilih seseorang sebagai teman yang menyenangkan bagiNya, yang dapat mengertiNya dan bersimpati kepadaNya&lt;br /&gt;Ia tidak mempunyai hak untuk memegang pakaianNya agar dapat menarik diri dari dosa dan kotoran, serta berpaling untuk berjalan ke tempat yang bersih&lt;br /&gt;Ia tidak mempunyai hak untuk dimengerti dan dihargai, bahkan oleh mereka yang sangat dikasihiNya&lt;br /&gt;Ia tidak mempunyai hak untuk tidak ditinggalkan oleh BapaNya, Bapa yang dikasihiNya melebihi segala-galanya&lt;br /&gt;HakNya satu-satunya ialah&lt;br /&gt;untuk menanggung hina, diludahi, dipukul, dan tidak membuka mulutNya;&lt;br /&gt;untuk berdiri sendiri sebagai seorang berdosa di hadapan hakim;&lt;br /&gt;untuk menanggung dosaku di atas kayu salib dengan segala penderitaannya.&lt;br /&gt;Ia tidak mempunyai hak. Dan saya . . .?&lt;br /&gt;Apakah saya mempunyai hak untuk hidup nikmat?&lt;br /&gt;Tidak. Tetapi saya mempunyai hak untuk mengalami kasih Allah.&lt;br /&gt;Apakah saya mempunyai hak untuk hidup aman?&lt;br /&gt;Tidak. Tetapi saya mempunyai hak untuk mengalami hidup di dalam kasih Allah.&lt;br /&gt;Apakah saya mempunyai hak untuk dikasihi dan dimengerti oleh orang-orang di sekitar saya?&lt;br /&gt;Tidak. Tetapi saya mempunyai hak untuk menikmati persahabatan dengan Dia yang mengerti saya lebih daripada saya mengerti diri sendiri.&lt;br /&gt;Apakah saya mempunyai hak untuk menjadi pemimpin di antara manusia?&lt;br /&gt;Tidak. Tetapi saya mempunyai hak untuk dipimpin oleh Dia yang kepadaNya saya telah menyerahkan diri untuk dipimpin olehNya seperti seorang anak kecil yang tangannya diletakkan dalam tangan bapanya.&lt;br /&gt;Apakah saya mempunyai hak atas diri saya sendiri?&lt;br /&gt;Tidak. Tetapi saya mempunyai hak untuk memiliki dan dimiliki Kristus.&lt;br /&gt;Semua yang Ia ambil, akan saya berikan; semua yang Ia berikan, akan saya ambil.&lt;br /&gt;Dialah satu-satunya hak saya!&lt;br /&gt;Dia, yang dihadapanNya semua hak lain tidak berarti.&lt;br /&gt;Saya mempunyai hak penuh atas Dia.&lt;br /&gt;Oh, kiranya Dia benar-benar beroleh hak penuh atas saya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mabel Williamson&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Notes:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;*Artikel ini diambil dari Jurnal Coram Deo Volume 1 No 1&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;** Beliau adalah dosen bahasa Inggris di STT SALEM - Malang, juga mengajar di beberapa tempat, bergereja di GKI Bromo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4679235888465264280-4801429695613977179?l=prazh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prazh.blogspot.com/feeds/4801429695613977179/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4679235888465264280&amp;postID=4801429695613977179' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/4801429695613977179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/4801429695613977179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prazh.blogspot.com/2009/01/hak-untuk-melepaskan-hak-sonya-widjaya.html' title='HAK UNTUK MELEPASKAN HAK'/><author><name>prazh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01247479753862694266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gNWaDcx-39I/SwTGXlltmsI/AAAAAAAAAAo/uqAh_e6LEBA/S220/HS+BARU.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4679235888465264280.post-6930106224006858043</id><published>2008-12-01T15:16:00.003+07:00</published><updated>2009-10-30T10:24:15.123+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div id="edn42"&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Section1"&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="TEXT-DECORATION: none"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;ETIKA MORAL DALAM MASA POSMODERN*&lt;?xml:namespace      prefix = o /?&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="TEXT-DECORATION: none"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Giamyati Tedjaseputra**&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="TEXT-DECORATION: none;font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoSubtitle" style="MARGIN-LEFT: 0cm; LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 18pt; TEXT-INDENT: 18pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dunia postmodern adalah suatu realitas yang mulai kuat pengaruhnya dalam kehidupan kita hari ini. Pemikiran-pemikiran postmodern menimbulkan sikap pesimis dan sikap tidak peduli terhadap kehidupan. Kehidupan pada masa postmodern kelihatan semakin kacau karena berdasarkan pada pemikiran-pemikiran yang sudah tidak percaya lagi pada kebenaran absolut serta standar-standar objektif. Mereka lebih percaya pada keragaman komunitas. Budaya postmodern&lt;i&gt; &lt;/i&gt;ditandai dengan pluralisme, relativisme, informasi yang berlebihan, tingginya mobilitas, kebingungan identitas, konsumerisme dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-LEFT: 0cm; LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kehidupan postmodern dapat disejajarkan dengan kehidupan pada masa para hakim: “Setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.” (Hak.21:25b). Mereka mencari kebenaran dalam pandangan mereka sendiri. Memang apabila kita melihat zaman hakim-hakim, keadaan moral manusia begitu parah menurut sudut pandang kita sebagai orang percaya. Lalu apakah benar bahwa keadaan postmodern ini separah itu? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Manusia postmodern tidak lagi percaya pada keberadaan Allah (terutama sejak Nietzsche mendeklarasikan bahwa Allah telah mati&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn1" name="_ednref1"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;). Dengan demikian, manusia dipandang sebagai makhluk yang bebas menentukan kehendak dan apa yang dilakukannya, tidak lagi terikat pada peraturan-peraturan yang seolah-olah menjadi alat dari yang berkuasa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Orang-orang postmodern tidak peduli dengan hal-hal yang benar atau salah. Bagi mereka, keyakinan adalah hak pribadi yang terwujud dalam masalah konteks sosial. Menurut mereka, “Apa yang benar untuk kami, mungkin saja salah bagi anda” Atau kebalikannya.&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn2" name="_ednref2"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dan sikap mereka adalah sikap tak acuh atau membiarkan saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent2"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dengan ketidakadaan kebenaran absolut atau suatu standard yang objektif, maka bagaimanakah orang postmodern ini bertindak dalam apa yang menurut mereka benar? Apabila tidak ada standard, maka bagaimana mereka dapat hidup dengan kehendak bebas mereka sebagai manusia tanpa melanggar kehendak orang lain. Bagaimanakah sikap dan pemikiran mereka? Lalu, bagaimanakah sikap kekristenan terhadap keadaan etika moral masa pasca modern ini? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent2"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h1 style="LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span lang="EN-US"   style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;Penjelasan Makna Dan Keadaan Postmodern&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Postmodern adalah merupakan reaksi dari modernisme. Apabila modernisme mengandalkan rasio manusia dan percaya pada kebenaran yang bersifat absolut serta mempunyai optimisme terhadap masalah-masalah kehidupan manusia, maka postmodernisme tidak mementingkan pemikiran yang sistematis dan logis. Selain itu, postmodernisme juga menyatakan bahwa tidak ada yang bersifat absolut, semuanya adalah relatif, sementara, subjektif dan pribadi. Middleton &amp;amp; Walsh&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn3" name="_ednref3"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;menggambarkan modernitas sebagai upaya mendirikan menara Babel yang ingin mempersatukan umat manusia seperti dalam Kej.11:4 “Juga kata mereka; ”Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.” Adanya keinginan membangun peradaban yang bergerak maju di mana mengarah pada suatu kesatuan umat manusia. Namun cita-cita modernisme ini diruntuhkan dan ditentang oleh postmodernisme yang lebih menghargai keragaman, relativisme, subjektif dan pribadi. Hampir berlawanan dengan modernisme, keadaan postmodernism&lt;i&gt;e&lt;/i&gt; ini kembali digambarkan oleh Middleton &amp;amp; Walsh sebagai akibat dari menara Babel, yaitu pengacauan bahasa, sehingga akhirnya mereka masing-masing bebas mendirikan apa saja yang mau mereka bangun, asal tidak menghalangi pekerjaan orang lain.&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn4" name="_ednref4"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Postmodern mempunyai sikap-sikap ketidakpercayaan atau menyatakan berakhirnya beberapa hal penting (1) &lt;i&gt;Ketidakpercayaan terhadap konsep dunia objektif&lt;/i&gt;: Kalau dasar modernisme adalah adanya dunia objektif, maka kaum postmodernism adalah penganut nonrealist dan konstruktivis. Nonrealist menolak bahwa kita dapat melihat realitas secara objektif. Tidak ada suatu titik puncak di mana realitas dapat dilihat secara objektif. Yang disebut dunia nyata hanyalah ciptaan manusia yang bisa berubah-ubah. Di dunia nyata tidak ada sesuatupun yang benar-benar sama. Konstruktivisme menekankan peranan bahasa dalam pengetahuan tentang dunia. Dunia nyata yang berubah-ubah hanyalah dunia simbolik, sebuah realitas sosial yang diciptakan manusia melalui bahasa sehari-hari. Sehingga dengan demikian, menurut postmodernisme, Allah dan semua konsep yang berhubungan dengan dengan nilai, moralitas, spiritualitas dan realitas supranatural/imaterial hanyalah konsep semata. Mereka hanyalah ‘lambang-lambang linguistik’ tanpa acuan yang objektif.&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn5" name="_ednref5"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Kaum postmodern ini menganut konsep pengetahuan yang pluralistik, penolakan terhadap dunia objektif tunggal atau sesuatu yang dijadikan dasar penilaian benar atau salahnya sebuah konsep atau pengetahuan. (2) &lt;i&gt;Ketidakpercayaan terhadap metanarasi&lt;/i&gt;; Menurut kaum postmodern, metanarasi adalah sebuah sistem yang mengabsahkan mitos-mitos&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn6" name="_ednref6"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;. Di mana sebetulnya metanarasi mempunyai kekuatan yang tidak berasal dari argumentasi atau pembuktian melainkan sarana utama di mana kelompok menemukan keabsahan dirinya.&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn7" name="_ednref7"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Modernisme runtuh karena narasi utama yang menaunginya telah kehilangan kekuatannya. Konsep postmodernisme tidak percaya pada mitos sentral yang memutlakkan segala sesuatu. Era Postmodern adalah sebuah periode di mana segala sesuatu tidak diabsahkan, yang selalu menyerang pandangan yang menganggap dirinya universal. Walaupun kaum postmodern melepaskan diri dari metanarasi, namun mereka masih memelihara narasi-narasi lokal. (3) &lt;i&gt;Ketidakpercayaan terhadap Sains&lt;/i&gt;: Sains modern mempunyai keinginan melenyapkan pengetahuan ‘prailmiah’ seperti kepercayaan, mitos, dan cerita-cerita primitif yang digunakan untuk menjelaskan kebenaran dunia. Namun menurut kaum &lt;i&gt;postmodern&lt;/i&gt;, sains tidak akan mampu melenyapkan mitos dari area pengetahuan. Justru sains harus kembali pada narasi untuk mendapatkan pengesahan dirinya. &lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn8" name="_ednref8"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Menurut Lyotard, situasi postmodern menghasilkan penemuan karena penemuan selalu lahir dari perbedaan pendapat, bukan dari konsensus. Kaum postmodern&lt;i&gt; &lt;/i&gt;lebih menghargai perbedaan daripada keragaman, lebih menghormati hal-hal yang bersifat lokal dan partikular daripada universal, sehingga dengan demikian berarti berakhirnya konsep ‘dunia,’ ‘metanarasi’ dan ‘sains.’ Penemuan-penemuan terakhir ini telah memperkenalkan suatu revolusi cara pandang ilmuwan seperti, cara pandang baru terhadap alam semesta&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn9" name="_ednref9"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; dan cara baru terhadap penelitian ilmiah&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn10" name="_ednref10"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 54pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h1 style="LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span lang="EN-US"   style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;Akar Dasar Pemikiran Postmodern; Friedrich Nietzsche&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Walaupun pemikir-pemikir Postmodern ini belajar dan dipengaruhi oleh berbagai macam filsafat dan pemikir-pemikir tertentu, namun yang mempunyai pengaruh sangat kuat adalah Nietzsche. Jurgen Habermas menyatakan bahwa pemikiran Nietzsche adalah “jalan masuk menuju postmodern.”&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn11" name="_ednref11"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Pemikiran Nietzsche merupakan suatu pemikiran yang revolusioner pada masanya. Ia menyatakan dirinya sebagai penghancur; “ Aku bukan manusia, aku dinamit...Aku menentang sebagaimana belum pernah ada yang menentang.”&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn12" name="_ednref12"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sebenarnya Nietzche sudah melakukan suatu dekonstruksi, ia berusaha merobohkan budaya Barat dengan konsep Allah yang absolut dan menggantikannya dengan manusia sebagai yang berkuasa mengatur hidupnya yang tidak lagi bergantung pada apa yang disebut sebagai Allah. Pemikiran-pemikiran Nietzsche yang penting adalah: (A) &lt;i&gt;Kematian Allah; &lt;/i&gt;Nietzsche menyatakan bahwa kematian Allah sebagai peristiwa yang paling penting zaman ini. Menurutnya, Allah hanyalah suatu gagasan dan pemikiran dari manusia yang tidak berani mengikuti dorongan daya hidupnya. Allah di sini erat hubungannya dengan budaya Barat yang sangat dipengaruhi tradisi Kristen di mana Allah digambarkan sebagai tokoh yang paling berkuasa dan yang dapat memberi upah atau hukuman pada manusia. Dengan ‘kematian’ Allah, maka budaya Barat sudah terlepas dari pengaruh kekristenan dan manusia mempunyai kebebasan untuk melakukan apa saja yang ia maui demi kelangsungan hidupnya, adanya suatu kehendak untuk berkuasa. Dengan demikian, konsep nilai tidak lagi didasarkan pada apa yang diluar jangkauan manusia. Kehendak manusialah yang menentukan nilai-nilai yang dianutnya. (B) &lt;i&gt;Lahirnya Manusia Super; &lt;/i&gt;Kematian Allah memunculkan ‘manusia super,’ yaitu manusia baru yang kembali ke semangat berkuasa, yang telah bebas dari belenggu sistem nilai dan moralitas lama serta secara bebas mewujudkan ‘kehendak untuk berkuasa.’&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn13" name="_ednref13"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Ia adalah manusia yang sepenuhnya menghayati atau membiarkan dirinya diresapi oleh kehendak untuk berkuasa. (C)&lt;i&gt; Moralitas Budak dan Moralitas Tuan.&lt;/i&gt; Nietzsche begitu membenci kekristenan, ia menganggap moralitas kristen sebagai moralitas budak Moralitas kekristenan dikatakannya sebagai pemujaan terhadap yang kesakitan dan yang kalah. Ia membenci cinta kasih, perhatian pada yang lemah dan kerendahan hati. Menurutnya yang baik adalah angkuh, keras, maju mengikuti insting dan nafsu, tanpa memperhatikan yang lemah.&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn14" name="_ednref14"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Kebalikannya, moralitas tuan adalah moralitas yang baik. Moralitas tuan ini membenarkan kekuatan dan kekuasaan di mana orang seluruhnya akan membenarkan dirinya sendiri. Moralitas tuan ini adalah ungkapan kehendak untuk berkuasa. Nietzsche berfokus pada nilai-nilai vital, pengembangan diri dan keberanian untuk mengikuti kepentingannya sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 18pt; TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tokoh Pemikir Postmodern&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;1&lt;u&gt;.Michel Foucault.&lt;/u&gt; Stenley J. Grenz menyebutnya sebagai murid Nietzsche yang paling sejati. Foucault banyak sekali mengambil pemikiran Nietzsche dalam membangun pemikiran-pemikiran postmodernnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Salah satu pemikirannya yang penting adalah mengenai kepercayaannya terhadap silsilah. Foucault menggunakan istilah Nietzsche; Silsilah moral. Inti pokok dari analisa silsilah adalah untuk menunjukkan bahwa suatu sistem pemikiran adalah hasil dari suatu kesatuan sejarah, bukan hasil kecenderungan rasio yang tak dapat dihindarkan.&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn15" name="_ednref15"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sehubungan dengan natur manusia, Foucault menolak esensi manusia apapun yang darinya bisa dilakukan teorisasi atau moralisasi. Foucault menunjukkan keprihatinan etis bagi mahluk yang tertindas, kaum yang didefinisikan sebagai yang menyimpang, tidak waras atau abnormal oleh lembaga-lembaga yang telah mapan.&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn16" name="_ednref16"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Hal ini ada hubungan dengan penolakannya terhadap pengetahuan sebagai kekuasaan, dimana ia menganggap pengetahuan adalah alat kekuasaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 27pt; TEXT-INDENT: 9pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;2. &lt;u&gt;Richard Rorty. &lt;/u&gt;Pemikirannya yang terkenal adalah Pragmatisme Baru; Inti tradisi pragmatis adalah pemahaman tertentu terhadap hakikat kebenaran. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pandangan pragmatisnya yang pertama adalah mengenai kebenaran yang adalah bersifat nonrealis. Kebenaran bukanlah sebuah konsep filosofis, melainkan suatu kesepakatan manusia. Dalam hal ini pandangannya tentang moral adalah bersifat; nonrealisme moral, yaitu yang menyatakan bahwa tidak ada realitas moral yang bisa diketahui secara terpisah dari budaya yang menciptakannya. Manusia terikat pada lingkungan budaya yang mempunyai kesepakatan bersama. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pandangannya yang kedua adalah nonesensialis yang berarti bahwa hanya percaya pada sifat relasional, di mana hakikat sebuah benda hanya ada dalam hubungannya dengan benda-benda lain. Pandangan nonsesensialis Rorty ini diterapkan dalam hal-hal yang dibahas filsafat, seperti kebenaran, pengetahuan, moralitas dan bahasa.&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn17" name="_ednref17"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pandangan Rorty yang ketiga adalah nonrepresentasionalis yang menolak bahwa bahasa mampu mewakili dunia dengan tepat. Baginya, pengetahuan bukan soal ‘menggambarkan realitas dengan tepat.’ Ia berusaha mencapai kebiasaan-kebiasaan perilaku yang dapat menyesuaikan diri dengan realitas.&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn18" name="_ednref18"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pragmatisme postmodern tidak membedakan antara apa yang seharusnya dan apa yang ada sekarang, juga tidak membedakan antara moralitas dan sains, ada kesetaraan antara ilmu sains dan ilmu sosial.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 27pt; TEXT-INDENT: 45pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h1 style="LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span lang="EN-US"   style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;Etika Pada Masa Postmodern&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Menurut Z. Bauman, pendekatan postmodern terhadap moral seringkali bagaikan merayakan ‘kematian dari etika,’ dan mengganti etika dengan estetika.&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn19" name="_ednref19"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Kalau masalah moral di masa modern dan sebelumnya adalah mengenai mana yang dikatakan benar dan mana yang dikatakan salah, maka Postmodern sudah tidak peduli lagi dengan apa yang disebut benar atau salah. Bagi mereka, tidak ada standard atau objektif tertentu seperti halnya dalam menentukan kebenaran, kegunaan, keindahan, dll.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 27pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;A. Dasar-Dasarnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;i&gt;1. Moralitas tanpa kode etik.&lt;/i&gt; Ada suatu krisis etika dalam &lt;i&gt;postmodernisme&lt;/i&gt; yaitu begitu besarnya kekuatan/kebebasan namun tidak disertai dengan bimbingan bagaimana menggunakannya? Hal ini menyebabkan adanya kesinambungan antara kebingungan dari praktek moral dan etika. Krisis moral merupakan konsekuensi dari masalah etika. Dengan tidak adanya kode etik yang diterima secara umum, maka moralitas juga bergerak tanpa adanya suatu standard. (a) k&lt;i&gt;etidakpastian moral&lt;/i&gt;; ada jarak besar antara perbuatan dan hasil/konsekuensinya. Kita tidak dapat mengandalkan persepsi kita dan tak dapat mengukur kualitas tindakan kita serta menganalisa efek-efeknya secara benar. Adanya kesulitan dalam menilai benar tidaknya apa yang kita lakukan, di mana kita bisa mengetahui benar tidaknya perbuatan adalah dari hasil atau akibatnya. Oleh karena itu kita perlu suatu ‘peraturan’ di mana kita bisa berlindung dalam bertindak.&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn20" name="_ednref20"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Pada satu pihak, sesungguhnya ada suatu kebutuhan akan moral, namun di pihak lain begitu mengagungkan kebebasan. Hal ini membawa kita pada suatu situasi dimana tanggung jawab dibiarkan mengambang begitu saja. Dikatakan oleh Z. Bauman “Dosa tanpa ada yang berbuat dosa, kriminal tanpa ada yang melakukannya, kesalahan tanpa ada yang berbuat.”&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn21" name="_ednref21"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; (b) k&lt;i&gt;etidakpastian etika&lt;/i&gt;; menurut Gergen, ringkasan dari dasar etika postmodern adalah; ‘Bagi orang postmodern, tak ada realitas transenden, rasionalitas, atau sistem nilai yang bisa dipakai untuk mengatur mereka yang saling bersaing.’&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn22" name="_ednref22"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Sebetulnya ada kesinambungan antara kebingungan dari praktek moral dan etika. Krisis moral merupakan konsekuensi dari masalah etika, dimana kode etik ini didasarkan pada ‘keadaan alamiah manusia’ yang potensial. Untuk membangkitkan potensi keadaan alamiah manusia ini diperlukan dua cara, yang pertama adalah dengan mengeluarkan potensi itu pada standar yang dapat mereka penuhi dan yang kedua melalui lingkungan yang dirancang sedemikian rupa sehingga dapat dipahami. Bagaimanapun juga kedua cara itu memerlukan bimbingan guru dan pemikir.&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn23" name="_ednref23"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;i&gt;2. Dasar yang sulit dipahami&lt;/i&gt;, karena: (a) &lt;i&gt;Dibangun atas ketidakpercayaan&lt;/i&gt;; Merupakan reaksi atas ketidakpercayaan terhadap sistem yang lama, yaitu sistem yang ada dan berkuasa pada masa modern yang mengutamakan alasan dan rasio, pada peraturan-peraturan. I. Bambang Sugiharto menggambarkan postmodernisme sebagai anak dari modernisme, di mana si anak membawa kecenderungan yang bertentangan dengan orang tuanya. Sikap orang tuanya yang terlalu ambisius mengembangkan kekuasaaannya menyebabkan si anak menanggung resiko yang dahsyat dan mengerikan. Oleh karena itu ia bereaksi sangat bertentangan dengan orang tuanya.&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn24" name="_ednref24"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Dasar yang dibangun atas suatu sikap pemberontakan adalah suatu dasar yang tidak kokoh. Suatu dasar yang mudah dirobohkan dan kemudian dibangun ulang. Membawa pada suatu dekonstruksi yang tidak berkesudahan. (b) &lt;i&gt;Berdasar atas&lt;/i&gt; &lt;i&gt;kebebasan&lt;/i&gt;; Mengutamakan kebebasan. Sebagai reaksi dari modernisme yang mengutamakan pada aturan norma yang objektif, maka Postmodern menyatakan bahwa kebebasan adalah di atas segalanya. Manusia mempunyai hak untuk menentukan hidupnya. Namun sebetulnya ada suatu dilema yang terjadi. Di satu pihak mereka mengingini suatu otonomi dari Allah dan dari hukum moral, tapi pada pihak lain mereka menginginkan standard-standard moralitas yang melampaui diri mereka. Arthur Leff menangkap dilema ini dan menyatakan; “Yang kita inginkan adalah bebas sempurna dan pada saat yang bersamaan, diatur mutlak, atau menemukan yang benar dan yang salah, pada saat yang sama menciptakannya.”&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn25" name="_ednref25"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; (c) &lt;i&gt;Tanggung jawab yang tidak terkatakan&lt;/i&gt;; Tanggung jawab berhubungan erat dengan peranan dalam masyarakat dan kehidupan sosial. Bauman menggambarkannya dengan istilah: Moral Pribadi, Risiko Bersama. Dengan arti adanya tanggung jawab-tanggung jawab pribadi yang berdasar pada moral-moral pribadi, yang dilakukan berdasar kepentingan pribadi, namun itu berdampak pada Masyarakat. Risiko yang ditimbulkan oleh masing-masing pribadi, menjadi tanggung jawab bersama, hingga dapat dikatakan suatu tanggung jawab yang tidak menentu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 27pt; TEXT-INDENT: -9pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;b&gt;B. Penyebaran Pengaruh Moral Postmodernisme&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sarana penyebaran postmodernisme yang paling efektif adalah melalui media, terutama media Televisi. Walaupun Televisi sangat jarang membicarakan filsafat postmodern, namun ia mempunyai kontribusi atas hilangnya kebenaran yang menjadi dasar kehidupan manusia dengan cara menegaskan tema-tema postmodern tertentu. Neil Postman menyatakan bahwa “Televisi telah mencapai status sebagai sebuah ‘meta-media,’ sebuah institusi yang bukan hanya mengarahkan pengetahuan kita tentang dunia, tetapi juga pengetahuan kita tentang cara-cara untuk mengetahui.”&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn26" name="_ednref26"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[26]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Media komunikasi memang penting karena selalu membentuk pesan-pesan yang disampaikan dan pesan-pesan itu kemudian pada gilirannya membentuk kita.&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn27" name="_ednref27"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[27]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Apa yang dilakukan oleh Televisi adalah sebagai berikut: (1) &lt;i&gt;Penekanan terhadap wacana dan menonjolkan gambar&lt;/i&gt;. Televisi didominasi oleh gambar di mana pada saat yang bersamaan, wacana yang rasional akan mengalami kebuntuan. Ketika gambar menenggelamkan kata-kata, maka kemampuan untuk berpikir, menulis dan berkomunikasi dalam bentuk linier dan logis diruntuhkan. Gambar-gambar televisi mungkin menarik, memikat dan memukau, tapi, gambar-gambar itu adalah presentasi buatan yang menyusutkan peristiwa-peristiwa menjadi fakta-fakta buatan atau bahkan memalsukannya.&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn28" name="_ednref28"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[28]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dalam postmodernisme, kebenaran dan logika hanya merupakan konstruksi sosial yang bisa didekonstruksi dan dikonstruksi ulang setiap saat dan televisi memberikan pelajaran praktis yang kuat mengenai ide-ide kebenaran seperti itu,&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn29" name="_ednref29"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[29]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; termasuk juga memudarkan ide etika moral yang harus dianut dan dilakukan. (2) &lt;i&gt;Hilangnya perikedirian (selfhood) yang autentik&lt;/i&gt;, yang melihat diri sendiri sebagai agen moral yang terkait dalam alam semesta moral dan spiritual dan diganti dengan gambar serta fakta buatan yang tidak mengandung kesatuan moral dan intelektual. Televisi membuat diri tidak memiliki landasan dan terfragmentasi. Melalui televisi, keterlupaan terhadap diri ditingkatkan dan dipancarkan secara global dan tiada hentinya. Akibatnya, diri menjadi tidak stabil, tercabut dan hampa; diri menjadi tidak memiliki landasan, tidak berbobot, dan tidak memiliki kebenaran dan tidak bisa terpahami oleh diri itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn30" name="_ednref30"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[30]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; (3) &lt;i&gt;Dunia permainan, ketidaksinambungan dan fragmentasi&lt;/i&gt;; Secara terus menerus televisi menyajikan dunia palsu dari ketidaksinambungan dan fragmentasi. Postman menyebutnya sebagai; ”dunia petak umpet” yaitu sebuah lingkungan visual yang tidak memiliki koherensi, terdiri dari gambar-gambar yang senantiasa berubah tema dan pokok, dan memiliki hubungan yang palsu.&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn31" name="_ednref31"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[31]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Karena postmodernisme tumbuh subur pada fragmentasi, inkoherensi dan ketidakbermaknaan, sebagai cara bertindak (karena tidak ada Allah, tidak ada realitas yang objektif dan tidak ada rasionalitas universal) maka televisi sangat mendukung tujuan postmodernis dengan sangat baik.&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn32" name="_ednref32"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[32]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; (4) &lt;i&gt;Berpacu dengan waktu,&lt;/i&gt; sehingga tidak ada waktu lagi bagi kebenaran. Kecepatan gambar televisi yang makin meningkat membuat evaluasi yang teliti menjadi mustahil. Akibatnya, sulit menentukan kebenaran dan kesalahan. Kecepatan serangan gambar-gambar itu ditujukan pada kita namun hanya sedikit yang serupa dengan realitas. Kebiasaan terhadap kecepatan yang dipaksakan menjadikan orang tidak sabar secara intelektual dan mudah bosan dengan hal-hal yang bergerak lamban (jadi begitu mencintai dunia instan). Orang jadi malas membaca dan berpikir. Gerakan agenda televisi tidak memungkinkan pembelajaran, pemahaman dan perenungan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="TEXT-INDENT: 17.85pt"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sudah jelas bahwa postmodernisme ini mempunyai sarana yang begitu setia mendukungnya sehingga begitu membantu perkembangan dan kemajuan postmodernisme. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 18pt; TEXT-INDENT: 18pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2 style="MARGIN-LEFT: 0cm; LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span lang="EN-US"   style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;C. Implikasinya&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 18pt; TEXT-INDENT: -18pt; LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;1.&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="FONT: 7pt 'Times New Roman'; font-size-adjust: none; font-stretch: normal"&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Sikap terhadap Aborsi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ada tiga pandangan terhadap aborsi: a) aborsi tidak boleh dilakukan dengan alasan dasar kekudusan hidup karena janin itu dipandang benar-benar manusia. Hidup adalah melebihi kebebasan pribadi dari sang ibu.; b) aborsi kadang-kadang boleh dilakukan dengan alasan kemunculan suatu kehidupan karena janin dipandang berpotensi menjadi manusia. Hak sang ibu boleh diperhatikan, demikian juga hak sang anak; c) Aborsi boleh dilakukan kapan saja dengan alasan mempertahankan kualitas hidup, karena janin dipandang hanya sebagai bagian tubuh manusia. Yang penting adalah hak dan kebebasan sang ibu untuk memilih. &lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn33" name="_ednref33"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[33]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Berdasarkan pemikiran etika postmodernisme, hak kebebasan pribadi haruslah dihormati, dihargai dan dianggap penting, terutama di dalam pengambilan keputusan. Tidak diperlukan suatu standard mutlak untuk menunjukkan apakah suatu tindakan itu benar atau salah. Kebebasan memilih (&lt;i&gt;Pro Choice&lt;/i&gt;) menekankan pada hak asasi manusia (dalam hal ini sang ibu, karena janin dianggap hanyalah bagian tubuh sang ibu yang berhak melakukan apa saja terhadap tubuhnya).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 18pt; TEXT-INDENT: 54pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 18pt; TEXT-INDENT: 54pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 18pt; TEXT-INDENT: -18pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;2.&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="FONT: 7pt 'Times New Roman'; font-size-adjust: none; font-stretch: normal"&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Sikap terhadap Eutanasia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Eutanasia berarti “kematian yang baik/menyenangkan.” Ada dua macam eutanasia: aktif dan pasif. Eutanasia aktif berarti: mencabut kehidupan untuk menghindari penderitaan. Sedangkan eutanasia pasif berarti: membiarkan kematian terjadi untuk menghindari penderitaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Alasan-alasan melakukan eutanasia adalah: a) Hak moral untuk mati dengan bermartabat. Kematian yang perlahan dan menyiksa dianggap sebagai suatu yang tidak bermartabat, oleh karena itu eutanasia merupakan sarana yang perlu untuk menjamin sebuah kematian yang bermartabat. b) Merupakan suatu tindakan kasih kepada orang yang menderita. Belas kasihan memerintahkan kita agar kita mengurangi rasa sakit yang tak berkesudahan. Hal yang indah adalah mengeluarkan seseorang dari kesengsaraannya. c) Untuk meringankan keluarga dari beban finansial. Sakit yang parah dan lama jelas memakan biaya yang sangat mahal. Jadi eutanasia dapat membantu dalam keterpurukan masalah finansial.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pemikiran postmodern menyetujui eutanasia dengan alasan yang sangat kuat. Mereka menekankan pada kebebasan individu untuk menentukan nasibnya, di mana ada persetujuan di antara orang-orang yang berkepentingan. Mengapa orang lain meributkannya?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 18pt; TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 18pt; TEXT-INDENT: -18pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;3.&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="FONT: 7pt 'Times New Roman'; font-size-adjust: none; font-stretch: normal"&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Sikap terhadap kebebasan orientasi seksual, kebebasan untuk menjadi homoseksual&lt;/i&gt;&lt;!--[endif]--&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Baik dikalangan orang Kristen maupun non Kristen, ada alasan-alasan tersendiri mengenai kehidupan homoseksual. Bagi orang-orang yang menyebut dirinya Kristen, mereka mempunyai argumentasi-argumentasi tertentu untuk membenarkan diri berdasarkan Alkitab. Namun bagi orang non Kristen, merekapun mempunyai alasan-alasan tertentu. Kebanyakan argumentasi-argumentasi mereka masuk dalam kategori umum yaitu alasan-alasan sosial dan moral. Alasan-alasan itu adalah sebagai berikut: a) Seharusnya tidak ada batasan seksual di antara orang-orang dewasa yang setuju untuk melakukannya. Apa yang dilakukan dua orang secara seksual dan dengan bebas adalah urusan moral mereka sendiri. Selain itu, seseorang itu mempunyai hak untuk melakukan apa saja yang ia inginkan terhadap tubuhnya.; b) Hak kebebasan pribadi melindungi homoseksual. Argumen itu mengacu pada kebebasan hak seorang wanita yang melakukan aborsi. “Jika seorang wanita mempunyai hak-hak atas proses seksualnya sendiri sehingga ia diperbolehkan mengaborsi hasil pembuahan, mengapa homoseksual tidak memiliki hak atas proses seksualnya sendiri yang tidak mengakibatkan pembuahan?”&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn34" name="_ednref34"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[34]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; c) Kecenderungan-kecenderungan seksual itu diwariskan. Banyak homoseksual yang berpendapat bahwa kecenderungan seksual adalah hal yang diwariskan, bukannya dipelajari. Seolah mereka memang diciptakan sebagai seorang homoseksual; d) Moral telah berubah sejak zaman dahulu. Jika praktek homoseksual dipersalahkan pada zaman dahulu, tidak ada alasan mempersalahkannya pada zaman sekarang. Seperti seks sebelum nikah, zaman dahulu dipersalahkan, tapi tidak lagi pada zaman kini.&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn35" name="_ednref35"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[35]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pendapat-pendapat dan alasan-alasan di atas sangat disetujui oleh dunia postmodern. Walaupun ada ketakutan terhadap HIV, mereka tetap menjunjung tinggi kebebasan orientasi seksual. Seperti yang dikemukakan oleh Michel Faucoult, sebagai seorang tokoh postmodern yang juga seorang homoseksual. Dalam pendapatnya mengenai seksualitas kuno, ia menyatakan bahwa ide Keristenan tentang seksualitas sudah berbeda dari ide pokok dari seksualitas kuno yaitu ada hal yang jahat di dalam dirinya. Ia lebih cenderung pada pandangan Yunani tentang seksualitas, yaitu sebagai yang baik, alamiah dan penting, walau sering disalah gunakan. Yunani kuno menekankan penggunaan kenikmatan yang tepat yang Faucoult menyebutnya sebagai “keindahan dari diri sendiri.” Suatu penciptaan diri-diri sendiri ini melalui keberadaan keindahan dan kenikmatan.&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn36" name="_ednref36"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[36]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Demi keindahan dan kenikmatan, maka tidak ada salahnya dengan homoseksual.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 18pt; TEXT-INDENT: 45pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 18pt; TEXT-INDENT: -18pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;4.&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="FONT: 7pt 'Times New Roman'; font-size-adjust: none; font-stretch: normal"&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Sikap terhadap masalah biomedis&lt;/i&gt;&lt;!--[endif]--&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Masalah biomedis ini merupakan masalah yang tidak kalah kompleksnya. Hal ini menyangkut percobaan-percobaan yang kadang bertujuan atau memakai cara-cara yang tidak bermoral, sebagai contoh; kloning dan percobaan-percobaan yang menggunakan manusia serta coba menciptakan makhluk-makhluk baru. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dunia postmodern begitu mendukung percobaan-percobaan dan perkembangan ilmu pengetahuan ini. Bagi mereka dunia ilmu pengetahuan tidaklah boleh dibatasai oleh apapun. Suatu hal yang sangat menarik apabila manusia bisa menciptakan manusia-manusia yang ideal atau bahkan menciptakan makhluk-makhluk aneh. Gambaran-gambaran makhluk-makhluk aneh ciptaan pembuat-pembuat film, mungkin suatu ketika akan menjadi kenyataan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 54pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h1 style="LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span lang="EN-US"   style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;Sikap Kekristenan Terhadap Etika Moral Postmodern&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;h3 style="LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;A.&lt;span style="FONT: 7pt 'Times New Roman'; font-size-adjust: none; font-stretch: normal"&gt; &lt;/span&gt;Dasar Etika Kristen&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;i&gt;1. Kebenaran yang Absolut, Mutlak dan Universal&lt;/i&gt;; Karakter moral Allah adalah tidak berubah, begitu juga dengan kebenaran Allah adalah kebenaran yang absolut mutlak tidak berubah, tanpa perkecualian serta tidak bersifat relatif. Oleh karena itulah maka kewajiban-kewajiban moral yang diberikannya adalah juga bersifat mutlak. Sebenarnya yang dimaksud dengan kebenaran mutlak adalah: a) Tidak berarti bahwa orang Kristen dapat memiliki pengetahuan tentang Allah atau manusia secara mutlak dan sempurna; b) Tidak berarti kemutlakan ini dapat dibuktikan secara mutlak. Natur keberadaan Kristen adalah mutlak, tapi berbeda dengan verifikasi kebenaran. Namun hal ini tidak menutup kemungkinan penjelasan secara intelektual dan dialog dalam menerangkan kemutlakan ini; c) Tidak berarti bahwa narasi orang Kristen tidak mungkin salah dalam memahami setiap aspek iman mereka. Groothuis menekankan bahwa; ”Orang Kristen seharusnya terbuka untuk menerima perbaikan dan pendalaman pada teologi mereka melalui keterlibatan intelektual dalam waktu panjang baik dengan sesama orang percaya maupun yang tidak.&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn37" name="_ednref37"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[37]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; J. Gresham Machen menyatakan bahwa Teologi bisa maju karena kesalahan-kesalahan kita diperbaiki oleh kebenaran Allah.&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn38" name="_ednref38"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[38]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kebenaran bersifat universal artinya dapat diterapkan dimana saja, meliputi apa saja dan tidak ada perkecualian. Kebenaran Allah tidak bersifat parsial ataupun situasional, melainkan universal dalam jangkauan penerapannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dengan dasar inilah maka etika Kristen adalah juga bersifat absolut dan universal. Dilaksanakan secara utuh dan totalitas, tanpa perkecualian serta diterapkan kepada siapa saja tanpa kecuali.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 18pt; TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;i&gt;2 Berdasar pada wahyu dan kehendak Allah melalui FirmanNya&lt;/i&gt;; Kebenaran Kristen bukanlah dikonstruksi atau dibuat oleh manusia, melainkan wahyu dari Allah, secara khusus melalui FirmanNya. Bertentangan dengan pandangan orang postmodern tentang bahasa, maka orang Kristen percaya bahwa bahasa adalah karunia Allah yang rasional, yang dipercayakan keberadaannya melalui gambarnya sendiri: Firman Allah yang menjadi manusia. Bahasa merupakan alat Allah dalam menyampaikan kebenaran, walaupun bahasa itu sendiri mungkin tidak terlalu jelas dalam pengalaman kita. Allah menyatakannya dalam Alkitab sebagai FirmanNya yang tertulis. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dengan demikian, dasar etika Kristen haruslah mengacu pada Alkitab sebagai dasar kebenaran yang mutlak, dimana Allah sendiri telah menyatakan wahyuNya melalui Alkitab. Alkitab adalah dasar standard dari etika Kristen.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 18pt; TEXT-INDENT: -18pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;i&gt;1.&lt;span style="FONT: 7pt 'Times New Roman'; font-size-adjust: none; font-stretch: normalfont-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;Berpusat pada kewajiban (Deontologis)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Etika Kristen adalah etika yang berdasar pada kewajiban yaitu bahwa kehendak Allah dinyatakan dalam hukumNya, perintahNya dan kaidahNya. Penilaian baik atau buruknya suatu tindakan adalah diukur dengan ketaatan terhadap kewajiban yang diperintahkan itu.&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn39" name="_ednref39"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[39]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Menurut Geisler,&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn40" name="_ednref40"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[40]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; ciri dari etika Deontologis ini adalah: a) Peraturan menentukan hasil; b) Peraturan adalah dasar tindakan; c) Peraturan itu baik tanpa menghiraukan hasil; d) Hasil selalu diperhitungkan berdasar peraturan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 9pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 9pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 9pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3 style="LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;B.&lt;span style="FONT: 7pt 'Times New Roman'; font-size-adjust: none; font-stretch: normal"&gt; &lt;/span&gt;Sikap Kekristenan&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 17.85pt; TEXT-INDENT: -17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;1.&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="FONT: 7pt 'Times New Roman'; font-size-adjust: none; font-stretch: normal"&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Berhati-hati terhadap keragaman nilai dan etika moral serta sarana yang menunjangnya. &lt;/i&gt;Kita perlu menyadari akan dasar pemikiran postmodern yang menekankan pada kebebasan dan keragaman dari individu, kelompok, suku, bangsa, di mana mereka mempunyai hak untuk menciptakan sendiri nilai-nilai dan etika moral mereka. Itulah realitas yang tidak dapat kita pungkiri. Kebenaran absolut yang ditetapkan Allah sudah diganti dengan kebenaran relatif yang diciptakan manusia untuk kepentingan diri mereka sendiri. Selain itu kita perlu berhati-hati terhadap sarana yang menunjang mempromosikan keragaman nilai dan etika moral yang tanpa standar. Dengan kata lain, kita perlu berhati-hati dengan televisi. Ia adalah sarana yang memudarkan kebenaran melalui exploitasi terhadap keragaman dengan daya tarik masing-masing dan mengundang untuk mencoba atau menyetujuinya. &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 18pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 17.85pt; TEXT-INDENT: -17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;i&gt;2.&lt;span style="FONT: 7pt 'Times New Roman'; font-size-adjust: none; font-stretch: normalfont-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;Tidak mengkompromikan kebenaran kekristenan sebagai dasar standar etika moral.&lt;/i&gt; Kita tetap harus berdiri teguh di atas dasar kebenaran yang kita kenal sebagai satu-satunya standar kebenaran yang mutlak, absolut dan universal. Suatu kebenaran yang tidak tergantung pada situasi, yang harus dilakukan oleh semua dan yang tidak terbatas pada tempat atau golongan. Kebenaran Kristen adalah dasar kehidupan kita karena memang itulah yang diperintahkan oleh Tuhan untuk kita lakukan. &lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 17.85pt; TEXT-INDENT: -17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;i&gt;3.&lt;span style="FONT: 7pt 'Times New Roman'; font-size-adjust: none; font-stretch: normalfont-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;Menunjukkan dengan kasih bahwa kebenaran kristiani adalah kebenaran yang layak untuk dijalankan.&lt;/i&gt; Kita harus tunjukkan bahwa kebenaran kristen adalah kebenaran yang layak untuk dijalankan. Kita perlu tunjukkan pada semua orang dengan kasih. Di tengah keragaman moral, nilai-nilai dan budaya yang ada, yang disertai dengan kekacauan suasana, maka kita perlu promosikan kebenaran Kristen sebagai jawaban pasti terhadap keadaan dunia postmodern yang pesimistik ini.&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 18pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h4 style="LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 17.85pt; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pemikiran dan realitas dunia &lt;i&gt;postmodernisme&lt;/i&gt; memang seolah-olah seperti suatu hembusan angin kencang yang berusaha menggoyahkan atau meruntuhkan sistem-sistem yang ada kini, termasuk benteng kokoh kepercayaan kita pada Allah yang absolut dan metanarasi. Di mana hal ini juga berpengaruh besar pada praxisnya. Pemikiran &lt;i&gt;postmodernisme&lt;/i&gt; sangat mempengaruhi keadaan etika moral manusia zaman ini. Walaupun begitu, beberapa pemikir &lt;i&gt;postmodernisme&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn41" name="_ednref41"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[41]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; bahwa keadaan &lt;i&gt;postmoder&lt;/i&gt;n adalah seperti seorang nomaden, di mana mereka berkelana mengelilingi daerah yang terstruktur sambil mencari makna yang stabil pada tiap-tiap tempat perhentian mereka. Mereka bergerak tanpa tujuan pasti, tapi mengikuti apa yang disebut sebagai ‘aturan-aturan tertentu.’ Nomaden adalah&lt;i&gt; &lt;/i&gt;gambaran orang-orang postmodern.&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_edn42" name="_ednref42"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[42]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Selain itu Bauman juga memberikan gambaran orang postmodern sebagai seorang pengembara dan turis; menggambarkan perjalanan yang tidak mempunyai tujuan pasti, hanya menikmati kesementaraan. Melihat keadaan ini Kekristenan haruslah merasa prihatin dan mencoba menyadari keadaan postmodern yang penuh dengan ketidak pastian dan pesimistik ini. Namun bagaimanapun juga kekristenan haruslah mengambil sikap di mana dasar kita adalah tetap pada kemutlakan metanarasi dan Allah kita yang hidup, yang menetapkan aturan-aturan bagi manusia untuk dilakukan. Walaupun kita menyadari keadaan dan keragaman dunia sekeliling kita, namun kita tetap harus mengambil sikap tidak mengkompromikan kebenaran kita. Selain itu kita juga perlu menyatakan kebenaran itu dengan menyaksikannya pada dunia sekitar kita yang jauh terpuruk dalam ‘&lt;i&gt;kebenaran-kebenaran semu&lt;/i&gt;’ yang mereka ciptakan sendiri. Kita mencoba mengajak dan menunjukkan pada mereka jalan yang dapat membawa mereka pada suatu tujuan tertentu, yaitu tujuan yang sesungguhnya pasti dari seluruh perjalanan hidup kita di dunia ini dengan kasih Kristus. Suatu perjalanan yang menuju pada satu-satunya tempat dan tujuan yang sebenarnya namun yang harus dilakukan dengan aturan-aturan khusus yang pasti dan mutlak, yaitu kebenaran sesungguhnya di dalam Kekristenan seperti yang dinyatakan dalam kebenaran Alkitab sebagai satu-satunya Firman Allah yang benar.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; sendiri merasa pesimis dengan masa depan dan keadaan etika moral postmodern. Seperti yang digambarkan secara metafora oleh Bauman,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h5 style="TEXT-INDENT: 0cm; LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h5&gt;&lt;h5 style="TEXT-INDENT: 0cm; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h5&gt;&lt;h5 style="TEXT-INDENT: 0cm; LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;Daftar Pustaka&lt;/span&gt;&lt;/h5&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 16pt; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 28.65pt; TEXT-INDENT: -28.65pt; LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Bauman, Zygmunt. &lt;i&gt;Postmodern Ethics&lt;/i&gt;. Oxford, UK: Blackwell Publishers, 1995&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 28.65pt; TEXT-INDENT: -28.65pt; LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Brownlee, Malcolm. &lt;i&gt;Pengambilan Keputusan Etis dan faktor-faktor di dalamnya&lt;/i&gt;. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 28.65pt; TEXT-INDENT: -28.65pt; LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Erickson, Millard J. &lt;i&gt;Truth or Consequences&lt;/i&gt;. Downers Grove, IL: Inter Varsity Press, 2001&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 28.65pt; TEXT-INDENT: -28.65pt; LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Geisler, Norman L. &lt;i&gt;Etika Kristen; Pilihan dan Isu.&lt;/i&gt; Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 2000&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 28.65pt; TEXT-INDENT: -28.65pt; LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Grenz, Stenley J. &lt;i&gt;A Primer on Postmodernism&lt;/i&gt;. Yogyakarta: Yayasan Andi, 2001&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 28.65pt; TEXT-INDENT: -28.65pt; LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Groothuis, Douglas. &lt;i&gt;Pudarnya Kebenaran&lt;/i&gt;. Surabaya: Momentum, 2003&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 28.65pt; TEXT-INDENT: -28.65pt; LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hebblethwaite, Brian&lt;i&gt;. Christian Ethics in the Modern Age.&lt;/i&gt; Philadelphia: The Westminster Press, 1982&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 28.65pt; TEXT-INDENT: -28.65pt; LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Magnis-Suseno, Franz SJ. &lt;i&gt;13 Tokoh Etika&lt;/i&gt;. Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1997&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 28.65pt; TEXT-INDENT: -28.65pt; LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Magnis-Suseno, Franz SJ.&lt;i&gt;Etika Dasar&lt;/i&gt;. Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1987&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 28.65pt; TEXT-INDENT: -28.65pt; LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Middleton, J. Richard &amp;amp; Brian J. Walsh. &lt;i&gt;Truth Is Stranger Than It Used to Be&lt;/i&gt;. Downers Grove, IL: Inter Varsity Press, 1995&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 28.65pt; TEXT-INDENT: -28.65pt; LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sugiharto, Bambang I &amp;amp; Agus Rachmat W. &lt;i&gt;Wajah Baru Etika &amp;amp; Agama.&lt;/i&gt; Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 2000&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 28.65pt; TEXT-INDENT: -28.65pt; LINE-HEIGHT: 16pt"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Stanford Encyclopedia of Philosophy, &lt;i&gt;Michel Foucault&lt;/i&gt;. Internet Resources, 2003&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEndnotes]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr style="HEIGHT: 3px" align="left" width="33%" size="1"&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[endif]--&gt; &lt;/span&gt;&lt;div id="edn1"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref1" name="_edn1"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Nietzsche, dalam bukunya Thus Spoke Zarathustra, Stanley Grenz, &lt;i&gt;A Primer on Postmodernism&lt;/i&gt;, p.133 &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn2"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref2" name="_edn2"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; &lt;?xml:namespace      prefix = st1 /?&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Stanley&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; Grenz, &lt;i&gt;A Primer on Postmodernism&lt;/i&gt;. &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;: Yayasan Andi, 2001, hal.30 &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn3"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 9pt; TEXT-INDENT: -9pt"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref3" name="_edn3"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;J. Richard Middleton &amp;amp; Brian J. Walsh. &lt;i&gt;Truth Is Stranger Than It Used to Be&lt;/i&gt;. Downers Grove, IL: Inter Varsity Press, 1995, p. 15-17&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn4"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref4" name="_edn4"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; ibid. p. 43&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn5"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref5" name="_edn5"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Douglas Groothuis. &lt;i&gt;Pudarnya Kebenaran&lt;/i&gt;. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Momentum, 2003. hal. 26 &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn6"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText" style="MARGIN-LEFT: 9pt; TEXT-INDENT: -9pt"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref6" name="_edn6"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; mitos yang dimaksud adalah yang memuat inti pusat nilai-nilai dan kepercayaan dari suatu kebudayaan sehingga bersifat religius, yang mengikat masyarakat dan menjadi dasar keabsahannya. Grenz, &lt;i&gt;A Primer on Postmodernisme&lt;/i&gt;, hal.74&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn7"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref7" name="_edn7"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; ibid, h.74&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn8"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref8" name="_edn8"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; ibid, h.77&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn9"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText" style="MARGIN-LEFT: 9pt; TEXT-INDENT: -9pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref9" name="_edn9"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Cara pandang baru terhadap alam semesta ini memberikan kesadaran betapa makin kompleksnya alam semesta ini, seperti ‘ledakan kompleksitas’ yang telah menggugurkan anggapan bahwa kita dapat mengatahui rahasia alam semesta secara pasti. Adanya kesepakatan bahwa dunia kita adalah dunia yang relatif dan partisipatif. Grenz, &lt;i&gt;A Primer on Postmodern&lt;/i&gt;, hal. 81-87&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn10"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText" style="MARGIN-LEFT: 9pt; TEXT-INDENT: -9pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref10" name="_edn10"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Cara pandang baru terhadap penelitian ilmiah ini menyatakan bahwa pengetahuan ilmiah bukanlah kebenaran universal yang objektif melainkan kumpulan tradisi penelitian yang dilahirkan oleh kelompok peneliti tertentu. Paradigmanya tidak hanya berisi hal-hal ilmiah, tapi juga factor ilmuwan itu sendiri, sehingga mempengaruhi cara kerja dan pengukuran yang dilakukan. Genz, &lt;i&gt;A Primer on Postmodern&lt;/i&gt;, hal. 87-91&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn11"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText" style="MARGIN-LEFT: 9pt; TEXT-INDENT: -9pt"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref11" name="_edn11"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; kutipan dari buku Erickson, Millard J. Truth or Consequences. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Downers Grove&lt;/st1:city&gt;, &lt;st1:state st="on"&gt;IL&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; : Inter Varsity Press, 2001, p.85&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn12"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref12" name="_edn12"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Franz Magnis-Suseno. &lt;i&gt;13 Tokoh Etika&lt;/i&gt;. &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;:Yayasan Kanisius, 1997, hal.195&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn13"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref13" name="_edn13"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; ibid, h.198&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn14"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref14" name="_edn14"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; ibid, h.200&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn15"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref15" name="_edn15"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Stanford Encyclopedia of Philosophy, &lt;i&gt;Michel Foucault&lt;/i&gt;. Internet Resources, 2003&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn16"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref16" name="_edn16"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Douglas Groothuis. Pudarnya Kebenaran. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: Momentum, 2003 , hal. 201-202&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn17"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText" style="MARGIN-LEFT: 9pt; TEXT-INDENT: -9pt"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref17" name="_edn17"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; kutipan dari buku Rorty: The Consequenses of Pragmatism, oleh Grenz: &lt;i&gt;A primer on Postmodernism&lt;/i&gt;, hal. 241&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn18"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref18" name="_edn18"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Stenley J. Grenz, &lt;i&gt;A Primer on Postmodernism&lt;/i&gt;. &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;: Yayasan Andi, 2001, hal. 242&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn19"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 45pt; TEXT-INDENT: -45pt"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref19" name="_edn19"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Zygmunt Bauman, &lt;i&gt;Postmodern Ethics&lt;/i&gt;. Oxford, UK: Blackwell Publishers, 1995. p.2&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn20"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref20" name="_edn20"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; ibid. p. 20&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn21"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref21" name="_edn21"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; ibid. p. 18&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn22"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 45pt; TEXT-INDENT: -45pt"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref22" name="_edn22"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Douglas Groothuis, &lt;i&gt;Pudarnya Kebenaran&lt;/i&gt;. Surabaya: Momentum, 2003. p.186&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn23"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref23" name="_edn23"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Zygmunt Bauman, &lt;i&gt;Postmodern Ethics.&lt;/i&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Oxford&lt;/st1:city&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;UK&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;: Blackwell Publishers, 1995, hal. 26-27&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn24"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText" style="MARGIN-LEFT: 9pt; TEXT-INDENT: -9pt"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref24" name="_edn24"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Bambang Sugiharto, I &amp;amp; Agus Rachmat W. &lt;i&gt;Wajah Baru Etika dan Agama&lt;/i&gt;. &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;: Yayasan Kanisius, 200, hal. 18&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn25"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref25" name="_edn25"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Douglas Groothuis, &lt;i&gt;Pudarnya Kebenaran&lt;/i&gt;. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Momentum, 2003, hal. 208&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn26"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref26" name="_edn26"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[26]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Douglas Groothuis, &lt;i&gt;Pudarnya Kebenaran&lt;/i&gt;. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Momentum, 2003, hal. 290&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn27"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref27" name="_edn27"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[27]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; ibid, h.290&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn28"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref28" name="_edn28"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[28]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; ibid, h.292-293.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn29"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref29" name="_edn29"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[29]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Ibid, h.294&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn30"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref30" name="_edn30"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[30]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; ibid, h.297&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn31"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText" style="MARGIN-LEFT: 9pt; TEXT-INDENT: -9pt"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref31" name="_edn31"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[31]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; televisi menyajikan gambar-gambar yang muncul, hilang dan muncul kembali tanpa suatu konteks rasional yang tepat , sebagai contoh penyajian iklan-iklan yang berdiri sendiri, kemudian suatu berita yang tragis, kemudian iklan-iklan lagi yang gembira, dll. Inilah yang disebut Postmasn sebagai dunia ‘petak umpet’. Groothuis&lt;i&gt;, Pudarnya Kebenaran&lt;/i&gt;, hal. 297&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn32"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref32" name="_edn32"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[32]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Douglas Groothuis, &lt;i&gt;Pudarnya Kebenaran&lt;/i&gt;. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Momentum, 2003. hal. 298&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn33"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref33" name="_edn33"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[33]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Norman L. Geisler, &lt;i&gt;Etika Kristen; Pilihan dan Isu.&lt;/i&gt; Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 2000&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn34"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 9pt; TEXT-INDENT: -9pt"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref34" name="_edn34"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[34]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Norman L. Geisler, &lt;i&gt;Etika Kristen; Pilihan dan Isu.&lt;/i&gt; Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 2000, hal. 332.&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn35"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText" style="MARGIN-LEFT: 9pt; TEXT-INDENT: -9pt"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref35" name="_edn35"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[35]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Hal ini terlebih khusus merupakan hal umum di negara Barat, walau sudah umum pula di berbagai negara di dunia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn36"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref36" name="_edn36"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[36]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Stanford Encyclopedia of Philosophy, Michel Faucaoult. Internet Resources, 2003.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn37"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref37" name="_edn37"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[37]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Douglas Groothuis, &lt;i&gt;Pudarnya Kebenaran&lt;/i&gt;. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Momentum, 2003, hal. 59&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn38"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText" style="MARGIN-LEFT: 9pt; TEXT-INDENT: -9pt"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref38" name="_edn38"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[38]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Machen mendefisinikian teologi sebagai ‘penjabaran fakta-fakta yang mendasari pengalaman.’ Oleh karena itu dapat terjadi kekurangan-kekurangan, oleh karena itu dapat diperbaiki. Groothuis&lt;i&gt;, Pudarnya Kebenaran&lt;/i&gt;, hal. 59-60.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn39"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 9pt; TEXT-INDENT: -9pt"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref39" name="_edn39"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[39]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Malcolm Brownlee, &lt;i&gt;Pengambilan Keputusan Etis dan faktor-faktor di dalamnya&lt;/i&gt;. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996, hal. 34&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn40"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 9pt; TEXT-INDENT: -9pt"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref40" name="_edn40"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[40]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Norman L. Geisler, &lt;i&gt;Etika Kristen; Pilihan dan Isu.&lt;/i&gt; Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 2000, hal. 26-27&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn41"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 9.05pt; TEXT-INDENT: -9.05pt"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref41" name="_edn41"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[41]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Zygmunt Bauman, &lt;i&gt;Postmodern Ethics&lt;/i&gt;. Oxford, UK: Blackwell Publishers, 1995, p. 240-241 &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn42"&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText" style="MARGIN-LEFT: 9pt; TEXT-INDENT: -9pt"&gt;&lt;a title="" href="file:/F:/PILLAR/etika%20moral%20-%20giam.htm#_ednref42" name="_edn42"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;[42]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Bauman mengkontraskan dengan gambaran orang modern sebagai pilgrim yang sudah mempunyai satu tujuan yang pasti. Bauman, &lt;i&gt;Postmodern Ethics&lt;/i&gt;, p. 240&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText" style="MARGIN-LEFT: 9pt; TEXT-INDENT: -9pt"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText" style="MARGIN-LEFT: 9pt; TEXT-INDENT: -9pt"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText" style="MARGIN-LEFT: 9pt; TEXT-INDENT: -9pt"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;* Artikel ini diambil dari Jurnal Coram Deo volume 1 nomor 1&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;**Giamyati &lt;span lang="EN-US" style="TEXT-DECORATION: none"&gt;Tedjaseputra adalah Dosen di STT Salem Malang dan mengambil gelar M.Th di Seminari Alkitab Asia Tenggara. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4679235888465264280-6930106224006858043?l=prazh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prazh.blogspot.com/feeds/6930106224006858043/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4679235888465264280&amp;postID=6930106224006858043' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/6930106224006858043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/6930106224006858043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prazh.blogspot.com/2008/12/etika-moral-dalam-masa-posmodern.html' title=''/><author><name>prazh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01247479753862694266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gNWaDcx-39I/SwTGXlltmsI/AAAAAAAAAAo/uqAh_e6LEBA/S220/HS+BARU.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4679235888465264280.post-4360442353299635397</id><published>2008-05-14T09:26:00.003+07:00</published><updated>2008-05-14T09:43:01.928+07:00</updated><title type='text'>Orang Kristen Berdemo?</title><content type='html'>Beberapa tahun yang lalu, tahun 1996-1998 ketika banyak sekali elemen masyarakat dan mahasiswa berdemo banyak diantara saya dan teman-teman di gereja berpikir apakah tepat kita sebagai orang kristen ikut berdemo. Seorang hamba Tuhan di gereja berujar kenapa harus ikutan berdemo, orang kristen tidak sepatutnya melakukan seperti itu. Seorang hamba Tuhan yang lain juga ikut menimpali dengan ucapan yang senada. Pada saat teman-teman kampus yang beragama kristen ikut berdemo, teman-teman seiman yang lain ada yang mendukung tapi tidak sedikit pula yang memandang sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berpkir kenapa tidak? bila memang harus untuk berdemo, kita berdemo kepada pemerintah karena oknum pejabat salah, tidak memihak kepada rakyat. Suatu kekuasaan atau pemerintah berasal dari Tuhan (kitab Roma) dan kita harus menghormati dan tidak boleh menjatuhkannya. Dalam kacamata saya yang kita protes adalah oknum pejabatnya entah itu presiden, menteri dan atau yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah harus kita dukung tetapi bila oknum pejabat berbuat salah, harus kita peringatkan, kita demo. Sebagai orang kristen kita mestinya berani mengutarakan suara kenabian. Bila tidak negara kita akan menjadi negara yang bobrok di mata Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemimpin bangsa sebelum bertanggung jawab kepada manusia sebenarnya harus bertanggung -jawab kepada Tuhan terlebih dahulu karena atas restu Tuhan, sebuah negara/pemerintahan dapat berdiri. Jadi bila pemimpin kita salah menjadi suatu kewajaran bagi kita untuk mengingatkan mereka. Dalam memberi peringatan, bisa disampaikan dengan cara-cara yang sopan dan sesuai dengan peraturan tetapi bila cara diplomasi sudah membentur tembok ya barulah kita berdemo.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4679235888465264280-4360442353299635397?l=prazh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prazh.blogspot.com/feeds/4360442353299635397/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4679235888465264280&amp;postID=4360442353299635397' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/4360442353299635397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/4360442353299635397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prazh.blogspot.com/2008/05/orang-kristen-berdemo.html' title='Orang Kristen Berdemo?'/><author><name>prazh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01247479753862694266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gNWaDcx-39I/SwTGXlltmsI/AAAAAAAAAAo/uqAh_e6LEBA/S220/HS+BARU.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4679235888465264280.post-118849261307093519</id><published>2008-05-05T12:36:00.002+07:00</published><updated>2008-05-05T13:11:45.227+07:00</updated><title type='text'>Haruskah Mengeluh?</title><content type='html'>Sudah 3 kali hari minggu saya bergereja di GRII Malang dan yang berkhotbah adalah Ev. Anton S. Un, M.Div. Mencermati khotbah yang disampaikan adalah tentang beban berat/kesesakan. Nats yang diambil dari  Roma12:12 yang berbunyi &lt;span style="font-family:arial;color:#3366ff;"&gt;Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;color:#3366ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Sering dalam kehidupan sehari-hari kita mengeluh mengapa begini, mengapa begitu? dan kita hidup dengan membanding-bandingkan orang lain. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan adalah sesuatu yang sulit untuk dijalani, lebih-lebih sebagai pengikut Kristus. Yesus tidak pernah mengatakan bila hidup di dalam Dia segala sesuatunya akan menjadi mudah dan menyenangkan. Selama masih berada di dunia, semuanya serba sulit dan terasa tidak adil. lebih mudah menjadi orang dunia daripada menjadi orang Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sebagai orang percaya kepada Yesus, kita diingatkan untuk selalu bersuka cita dalam pengharapan. Segala kesusahan, kegalauan bawa kepada-Nya dengan penuh keyakinan dan pengharapan bahwa Dia Tuhan akan mampu memberikan yang paling baik bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabarlah dalam kesesakan. Kita mungkin akan berpikir bagaimana mungkin hal itu dapat terjadi. Kesesakan tidak hanya kita yang mengalami, jauh sebelum kita lahir, orang-orang sebelum kita juga mengalami hal yang sama. Dan mereka yang bersabar, dihibur oleh Tuhan dan mendapatkan sesuatu yang indah dari Tuhan. Sesuatu yang seringkali tidak pernah mereka pikirkan. Kesesakan ada sepanjang kita masih berada di dunia, oleh karena itu kita seyogyanya bersabar dan terus berpengharapan kepada Yesus Kristus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpengharapan dan bersabar, dapat membuat kita kehabisan energi untuk siap sedia. Untuk dapat selalu terus bersabar dan berpengharapan kita juga harus tekun berdoa. Berdoalah, katakanlah yang ada di hati kita jangan dipendam, mintaah sukacita,kesabaran, pengharapan. Berdoalah dengan demikian kita dapat terus memelihara kesabaran dan pengharapan di dalam Yesus Kristus , Tuhan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kita dapat melihat bahwa hidup kita memang akan menghadapi, melewati suatu masa yang penuh dengan beban berat, kesukaran, kesesakan tetapi Tuhan kita Yesus Kristus melalui Rasul Paulus menguatkan kita untuk selalu bersabar, berpengharapan, terus tekun berdoa!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4679235888465264280-118849261307093519?l=prazh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prazh.blogspot.com/feeds/118849261307093519/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4679235888465264280&amp;postID=118849261307093519' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/118849261307093519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/118849261307093519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prazh.blogspot.com/2008/05/haruskah-mengeluh.html' title='Haruskah Mengeluh?'/><author><name>prazh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01247479753862694266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gNWaDcx-39I/SwTGXlltmsI/AAAAAAAAAAo/uqAh_e6LEBA/S220/HS+BARU.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4679235888465264280.post-7555242181148400378</id><published>2008-03-24T12:12:00.004+07:00</published><updated>2008-03-24T12:18:08.051+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='panggilan Tuhan'/><title type='text'>Sungguh Lembut Tuhan Yesus Memanggil</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tulisan ini ditulis tidak sengaja, waktu menyelesaikan artikel Sudah Benarkah Pilihan Anda? sambil mendengarkan lagu rohani dari kaset digital mengalunlah lagu ini. Lagu ini sangat menyentuh hatiku dan tak terasa membawa memori kembali ke tahun-tahun jahiliyah dimana aku jauh dari Tuhan.Pergi ke gereja hanya karena kewajiban, ritual setiap minggu. Aku juga malas untuk ikut segala bentuk persekutuan apalagi retret, kalau ikut kadang hanya karenasungkan atau yah pengin jalan-jalan daripada liburan gak ada acara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu masa, ada temen baik aku ngajak ikut retret dan persekutuan yang jarak waktu pelaksanaannya tidak terpaut jauh hanya sekitar 1 minggu. Pertamanya sih males, ngapain ikut acara seperti itu, lagipula waktu itu tugas rumah buanyaak banget maklum lagi kelas 1 sma. aku bilang aja males, gak punya uang, ada acara yang lainBiasa cari alasan klise untuk ngeles biar gak ikut. Temen aku tuh langsung aja nyerocos bilang kamu tuh gak pernah mau kalau di ajak, trus komen lagi: sekali ini aja kamu harus ngikut retret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, akhirnya aku ikut retret tersebut. Selama retret ya mulai merasakan akan arti kehadiran Tuhan dalam kehidupan, juga bagaimana kita yang sudah berdosa di tebus oleh Yesus. Tapi itu belum membuat aku sesadar-sadarnya. mau pulang retret dia nyamperin lagi dan ngomong jangan lupa minggu depan dateng ke persekutuan di rumah dia. yah aku bilang aja iya kalau ingat dan ada waktu.eh Dia-nya ngeyel, dan ngomong aku harus dateng karena itu persekutuan sekaligus ucapan syukur ulang tahunnya. Datang juga akhirnya aku menghadiri persekutuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan, eh tidak ada istilah kebetulan memang ini adalah rencana dan kedaulatan Tuhan, yang berkhotbah adalah seorang misionaris dari Korea yang baru dateng.Jadinya masih fresgh graduate gitulah, baru beberapa bulan di Indonesia khususnya di Malang. Pdt. Hong biasa kami memanggil namanya berkhotbah tentang pengorbanan Tuhandan bagaimana kita umat manusia harus meresponi pengorbanan dan bagaimana kita harus hidup sesuai dengan teladan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini aku merasakan bahwa aku telah salah, aku menjauhkan dari persekutuan-persekutuan dan malas atau lebih tepatnya tidak mau terlibat dalam hal kegiatan kerohanian. Aku juga merasakan bahwa Tuhan Yesus memanggil aku dengan lembut melalui teman aku, acara retret dan yang paling utama adalah firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Hong.Sejak saat itu aku mulai merespon dengan baik panggilan Tuhan. Aku sedikit demi sedikit terlibat dalam acara/kegiatan gereja, ikut dalam pelayanan di Komisi Musik dan Puji-pujian, Komisi Pemuda, VG Pemuda, terlibat dalamkepanitiaan kegiatan rohani gereja yang dilaksanakan oleh Bidang Pelayanan, Komisi Anak. sampai akhirnya saya dibaptis sidi tahun 1993 dan dipercaya Tuhan menjadi Ketua Komisi Pemuda periode 1994-1996&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sampai saat ini aku masih mampu bertumpu pada kedua kaki dan berlutut dalam berdoa serta menjalani beratnya kehidupan ini, hanya satu kata yang ucapkan yaitu YESUS.Ya, karena Dia, Yesus yang telah memanggil aku dan mengeluarkan aku dari lumpur dosa dan beratnya kehidupan aku mampun melewati hari-hari yang penuh sukacita dan duka.Terima kasih Tuhan Yesus. to GOD be the glory.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan Yesus tidak hanya memanggil aku, tetapi juga memanggil Saudara dengan lembut. sudahkah saudara mendengar dan datang menghampiri-Nya?Yesus menginginkan saudara yang capek, bosan, berbeban berat dengan kehidupan ini, hidup dalam ketidakpastian, hidup dalam lumpur dosa. Datanglah kepadaYesus, aku menjamin 1000000000000% bahwa Ia akan menolong Saudara, memberi kelegaan kepada Saudara. Datanglah dan serahkanlah apa ada dalam kehidupan Saudara kepada Yesus.Dengarlah! Yesus telah memanggil engkau dengan lembut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4679235888465264280-7555242181148400378?l=prazh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prazh.blogspot.com/feeds/7555242181148400378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4679235888465264280&amp;postID=7555242181148400378' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/7555242181148400378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/7555242181148400378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prazh.blogspot.com/2008/03/sungguh-lembut-tuhan-yesus-memanggil.html' title='Sungguh Lembut Tuhan Yesus Memanggil'/><author><name>prazh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01247479753862694266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gNWaDcx-39I/SwTGXlltmsI/AAAAAAAAAAo/uqAh_e6LEBA/S220/HS+BARU.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4679235888465264280.post-1249287583167126865</id><published>2008-03-24T12:08:00.004+07:00</published><updated>2008-03-24T12:17:34.557+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pilihan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keselamatan'/><title type='text'>Sudah Benarkah Pilihan Anda?</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Artikel ini sudah ditulis sejak lama sekitar 1 tahun yang lalu dan masih berupa tulisan tangan. Artikel ini adalah sekelumit renungan dari masa paskah tahun kemarin.Ini adalah suatu refleksi kehidupan penulis dan sesuatu yang sangat spesial karena penulis tahu apa yang harus dipilih dalam kehidupan ini dan sesuatu itu ingin penulis bagikan bagi pengunjung blog ini dan secara sukarela mau menyisihkan waktu untuk membacanya. Selamat membaca dan kiranya berkat yang berasal dariTuhan Yesus Kristus memberkati kita semua.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Di masa-masa sekarang ini, semua aspek kehidupan berkembang dengan cepat. Waktu yang ada hanya 24 jam per hari tak cukup rasanya untuk mengikuti urat nadi kehidupan ini.Banyak orang mengejar sesuatu; sesuatu yang dapat menunjang hidupnya, entah itu karier, uang, kebahagiaan, kekuasaan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Di lain pihak banyak orang yang tidak dapat berbuat apa-apa, mungkin rendah diri karena cacat dan putus asa, ada juga yang malas, dan ada juga yang mungkin ya mungkin melakukan apa-apa tetapi apa-apa yang mereka kerjakan cenderung bersifat negatif dan tiak produktif. contohnya: main judi, mabuk, ndugem, nonton tv berjam-jam (terbius sinetron?)main video games, dan masih banyak hal yang lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kita dapat melihat hal-hal yang tersebut di atas dan mengamati maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hidup ini adalah pilihan. Dalam menjalani kehidupan, kitadiperhadapkan kepada begitu banyak pilihan. Bahkan pilihan-pilihan tersebut sering membuat kita menjadi terpojok atau dengan bahasa yang sering kita dengaradalah buah simalakama. Apapun yang dipilih pasti tidak mengenakkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sebelum membaca artikel ini lebih lanjut marilah coba buka kitab suci Anda. Dan jika tidak memiliki atau sedang tidak membawa silakan masuk ke situs &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sabda.org/"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;www.sabda.org&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pada saat ini buka dan bacalah firman Tuhan: Kejadian 3, Kejadian 13, Kejadian 25:19-34; Lukas 18:18-27. Coba dibaca dan direnungkan dengan perlahan.Apa yang dapat dipelajari? yang dapat dipelajari adalah kehidupan yang diperhadapkan kepada pilihan. Pada Kejadian 3, kita belajar dari Adam, dia mempunyai 2 pilihan, yaitu menuruti perintah Tuhan atau istrinya.Akhirnya kita mengetahui bahwa dia menuruti istrinya. Apa akibat dari keputusannya itu? Dia terusir dari Taman Eden dan harus menanggung beban kehidupan yang berat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pada Kejadian 13, kita juga melihat Lot yang barada di antara 2 plihan. Dan yang dipilih Lot adalah apa yang bagus dan subur saja. Kejadian 19, kita dapat membaca bahwa kota tempat tinggal Lotdihancurkan oleh Tuhan. Istri Lot ternyata memilih yang salah, hatinya masih tertuju kepada kota yang penuh dosa, akibatnya fatal sekali. Ia mati menjadi tiang garam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Selanjutnya di Kejadian 25, Esau diperhadapkan pada 2 buah plihan antara lapar dan sangat ingin menikmati bubur kacang merah atau kehilangan hak kesulungan.Plihan Esau? Esau memilih semangkuk bubur kacang merah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dalam Perjanjian Baru, kita juga dapat mengetahui dan belajar bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga ada pilihan yang harus segera diambil lalu diputuskan.Mau mengikuti syarat Tuhan atau menolak syarat itu agar dapat dapat masuk surga.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Yesus telah lahir bagi kita semua tanpa terkecuali. Dia tidak hanya lahir dan mati di golgota tetapi Yesus juga memberi kita banyak teladan yang dapat kita contoh. Contohnya:Yesus mengambil pilihan yang benar ketika dicobai iblis, Yesus juga memilih untuk tetap mati di atas kayu salib demi kita, umat manusia yang berdosa.Yesus sekarang sudah bangkit dan berada di surga. Dia pun memberi pilihan bagi umat manusia; barangsiapa percaya pada-Nya akan memperoleh hidup kekal.Tetapi yang menjadi pokok permasalahan adalah sudahkah kita merespon dengan baik tawaran itu. Orang-orang pengikut Tuhan Yesus disebut kristen.Dewasa ini banyak sekali orang, golongan yang menyebut sebagai orang kristen. Bahkan banyak juga aliran-aliran gereja yang menyebut sebagai aliran kristen yang benar.Aliran manakah yang kita pilih? atau kita hanya mengaku-aku sebagai orag kristen; bahasa dunianya kristen KTP.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pilihan berada di tangan kita, setiap manusia bertanggung jawab atas keselamatannya sendiri-sendiri. Plihan yang ditawarkan oleh Yesus sudah sangat jelas.Bila kita merespon negatif berarti kita tidak mendapatkan hidup kekal; respon kita postif maka mendapatkan hidup kekal. Bila kita merespon postif tentunya kita juga tidak gentardalam menghadapi sikap dunia terhadap kita, karena sikap dunia akan terhadap kita akan sangat berat, kita akan mengalami aniaya, dikucilkan, dicerca tetapi ingatlah bahwa Yesus sudah terlebih dulu merasakan itu semua. Kita juga dituntut dengan rela memikul salib, mengikuti dan menjalankan perintah, larangan Tuhan Yesus.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mempercayai dan mengikut Tuhan Yesus memang tidak mudah, banyak hal yang harus dilalui; hal-hal tersebut kelihatan penuh duka, aniaya tapi coba dicerna dan direnungkanbahwa di balik itu semua kita mendapat keselamatan kekal, mahkota surga yang mungkin bila kita ungkapkan dengan kalimat akan sangat sulit untuk memilih kata-kata yang pas untuk menggambarkan betapa gembira, bahagia dan sukacitanya kita.Kita tentu tidak asing dengan lagu sekolah minggu yang sering kita nyanyikan atau dengarkan bahkan juga sering diulas dalam khotbah yaitu di dunia ini ada 2 buah jalan maing-masing adalah jalan lebar dan jalan sempit.Jalan yang lebar menuju kebinasaan, sedang jalan yang sempit menuju kekekalan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kita sudah membaca dan mendengar tokoh-tokoh di kitab suci harus membayar mahal atas pilihan yang salah. Pada saat ini Yesus telah mati tersalib di golgota, dan turun ke kerajaan maut dan telah bangkit pula dari antara orang mati. Yesus telah mengalahkankerajaan maut, setan, iblis dan kroni-kroninya. Yesus membawa menawarkan keselamatan kepada kita semua. Tuhan tidak ingin kita salah memilih, Tuhan ingin kita merespon dengan postif dan menerima tawaran Tuhan tetapi Tuhan juga tidak memaksa untuk mengambil tawaran -Nya.Penulis telah mengambil keputusan dengan menerima Tuhan Yesus sebagai satu-satunya Tuhan dan juruselamat pribadi penulis. Bagaimana dengan Saudara-saudara pembaca yang budiman? Sudah benarkah pilihan yang telah diambil selama ini? Jika belum maka kesempatan untuk belum tertutup untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat pribadi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ada tertulis banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih, apakah Saudara tidak ingin menjadi bagian yang menerima keselamatan. Sebagai penutup, penulis ingin bertanya sekali lagi,sudah benarkah pilihan yang Saudara ambil? Tuhan Yesus memberkati.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;malang.jumat agung tanggal 21 Maret 2008.pukul 12.00 &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4679235888465264280-1249287583167126865?l=prazh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prazh.blogspot.com/feeds/1249287583167126865/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4679235888465264280&amp;postID=1249287583167126865' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/1249287583167126865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/1249287583167126865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prazh.blogspot.com/2008/03/sudah-benarkah-pilihan-anda-artikel-ini.html' title='Sudah Benarkah Pilihan Anda?'/><author><name>prazh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01247479753862694266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gNWaDcx-39I/SwTGXlltmsI/AAAAAAAAAAo/uqAh_e6LEBA/S220/HS+BARU.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4679235888465264280.post-466060667640837893</id><published>2008-03-03T14:25:00.005+07:00</published><updated>2008-03-03T15:21:16.284+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='etika'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibadah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sopan santun'/><title type='text'>Etika dalam Beribadah</title><content type='html'>Awal bulan Februari kemarin saya mengunjungi web milik teman. Ada satu foto dan artikel yang menarik perhatian saya. Foto tersebut berupa gambar HP yang disilang dan ada tulisan Hari dan Waktu untuk Manusia telah lewat, sekarang Hari dan Waktu untuk Tuhan. Foto tersebut sih didapat di dalam gedung salah satu gereja di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dibaca dan dicermati mungkin kita akan tersenyum membacanya. Tapi kalau direnungkan maknanya cukup dalam. Seringkali kita anak-anak Tuhan dalam beribadah menyepelekan Tuhan. Di tengah kekhidmatan beribadah eh tiba-tiba ada suara bunyi HP berdering. Dan setelah berdering diangkatlah HP itu oleh si empunya dan bercakap-cakap. Cukup mengganggu konsentrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya tidak habis mengerti adalah kenapa ada orang yang berbuat demikian. 6 hari lamanya Tuhan memberi waktu untuk bertemu, ngobrol bercanda sama orang lain, keluarga eh pas hari ke Sabat hari untuk Tuhan 2 jam lagi yang diminta untuk beribadah masih juga dikorupsi. Apakah Tuhan itu sedemikian tidak pentingnya dibandingkan dengan orang lain, entah itu rekan bisnis, keluarga, pacar atau hal yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya kita malu terhadap diri sendiri karena tidak menghargai Tuhan. Itu masih salah satu contoh, contoh yang lain adalah cara berpakaian. Tidak sedikit anak-anak Tuhan datang ke gereja dengan mengenaikan Pakaian yang kurang sopan. Para wanita memakai pakaian dan celana yang ketat, bahkan ada yang kurang bahan dengan dandanan yang wah seperti mau ke tempat pesta. sementara yang laki-laki ke gereja dengan pakaian necis tetapi kemejanya bagian atas di lepas kancingnya sehingga kelihatan dadanya atau juga cuma memakai kaos oblong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Weh-weh lucu kalau saya pikir-pikir. Kita ke gereja untuk beribadah bukan mau fashion show atau menemui seseorang yang biasa-biasa. Kita menemui Tuhan yang sangat-sangat luar biasa maka kita harus menemui dengan sopan, pakaian yang layak jangan berlebihan. matikanlah HP anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita memang orang gak punya sih gak masalah pakai kaos oblong dan sandal jepit atau bahkan tidak memakai alas kaki tetapi berikanlah yang terbaik dan layak. Saya kira kita yang tinggal di kota tidak mungkin kalau tidak mempunyai alas kaki dan pakaian yang layak. Kalau kita melihat ada saudara seiman yang seperti itu ya bantulah, berilah dari apa yang dapat kita berikan jangan cuma ngomong kasihan ya. bah gak artinya itu. Harus diwujudkan melalui tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata marilah kita menhadap dan beribadah kepada Tuhan dengan sopan dan waktu untuk Tuhan janganlah di korupsi dengan cara datang terlambat pulang lebih cepat, masih menerima telpon dan atau SMS bila HP berbunyi. Tuhan memberkati&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4679235888465264280-466060667640837893?l=prazh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prazh.blogspot.com/feeds/466060667640837893/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4679235888465264280&amp;postID=466060667640837893' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/466060667640837893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/466060667640837893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prazh.blogspot.com/2008/03/etika-dalam-beribadah.html' title='Etika dalam Beribadah'/><author><name>prazh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01247479753862694266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gNWaDcx-39I/SwTGXlltmsI/AAAAAAAAAAo/uqAh_e6LEBA/S220/HS+BARU.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4679235888465264280.post-3736574978383780785</id><published>2008-03-03T14:25:00.002+07:00</published><updated>2008-03-03T14:48:23.262+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ramalan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='okultisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dosa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hipnotis'/><title type='text'>Ramalan dan Hipnotis</title><content type='html'>&lt;span style="color:#000066;"&gt;Beberapa minggu terakhir kita dapat melihat banyak sekali iklan di televisi atau tabloid tentang ramalan. Dengan mudahnya si pengiklan mengatakan bahwa dia bisa tahu akan masa depan kita. masa depan kita bukan misteri bagi dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau masa depan kita di ketahui oleh di peramal lalu siapakah yang mengetahui masa depan si peramal itu sendiri? kita sebagai orang kristen jangalah ikut-ikutan arus dengan percaya omongan si peramal. jelas tertulis di kitab suci bahwa kita dilarang untuk percaya dan berhubungan dengan si roh-roh jahat dan segala bentuk ramalan. Masa depan kita yang tahu hanyalah Tuhan. Tuhan Yesus yang mengetahui hari esok kita. Apakah masa depan kita hanya ditentukan oleh no HP dan nama kita? itu semuda hanyalah tipu daya si iblis untuk mengelabuhi mata kita. sadarlah bila kita memngikuti jejak si peramal kita terjatuh dalam dosa dan juga membuat si peramal senang karena kita percaya pada mereka dan mereka pun bertambah kaya. contoh yang dapat kita lihat aalah Nina Wang. Seorang taipan dari HK yang dihidupnya dikendalikan dengan ramalan, yang terjadi dengan kekayaan yang luar biasa hasil warisan dari suaminya tidak dapat membeli kesehatan dan kebahagiaan. Si Nina Wang mati dan kekayaannya jatuh kepada si peramal pribadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu yang lalu saya melihat televisi dan kebetulan yang diulas adalah hipnotis. kata presenternya sih ini hipnotis untuk tujuan kebaikan contohnya adalah suatu guru menggunakan ilmu hipnotis untuk menghipnotis muridnya agar si murid rajin belajar dan ternyata benar si murid pun rajin dan nilai yang di dapat juga bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelihatan tidak ada yang salah dari ilmu ini, tetapi kalau di telaah lebih mendalam hipnotis juga salah satu bentuk penyesatan oleh si iblis. berhati-hatilah bahwa aliran new age sedang menjalankan aksinya dengan berkedok yang baik-baik dan menunjukkan bahwa ini tidak melanggar alkitab, kita sering terjebak. Jangalah kita terjebak dengan permainan ini. Kalau kita mengikutinya maka dengan tidak sadar kita terjebak dalam praktek okultisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala bentuk ramalan dan hipnotis terlarang di hadapan Tuhan. Tidak patut untuk kita lakukan. Hati-hati dengan hal tersebut. Ingatlah bahwa apa yang baik dan enak belum tentu berasal dari Tuhan. Pada zaman sekarang ini banyak sekali nabi-nabi palsu bahkan mengatasnamakan Tuhan Yesus, tetapi awas jangan tertipu. Berjaga-jagalah &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4679235888465264280-3736574978383780785?l=prazh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prazh.blogspot.com/feeds/3736574978383780785/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4679235888465264280&amp;postID=3736574978383780785' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/3736574978383780785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/3736574978383780785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prazh.blogspot.com/2008/03/ramalan-dan-hipnotis.html' title='Ramalan dan Hipnotis'/><author><name>prazh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01247479753862694266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gNWaDcx-39I/SwTGXlltmsI/AAAAAAAAAAo/uqAh_e6LEBA/S220/HS+BARU.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4679235888465264280.post-5103304353015833859</id><published>2008-02-21T08:45:00.002+07:00</published><updated>2008-02-21T09:54:36.869+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Horacio'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='soul'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='song'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Christian video'/><title type='text'>It's Well is My Soul</title><content type='html'>&lt;embed src="http://godtube.com/flvplayer.swf" FlashVars="viewkey=3a0175c544b72e4861b9" wmode="transparent" quality="high" width="330" height="270" name="godtube" align="middle" allowScriptAccess="sameDomain" type="application/x-shockwave-flash" pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" /&gt;&lt;/embed&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4679235888465264280-5103304353015833859?l=prazh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prazh.blogspot.com/feeds/5103304353015833859/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4679235888465264280&amp;postID=5103304353015833859' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/5103304353015833859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/5103304353015833859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prazh.blogspot.com/2008/02/its-well-my-soul.html' title='It&apos;s Well is My Soul'/><author><name>prazh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01247479753862694266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gNWaDcx-39I/SwTGXlltmsI/AAAAAAAAAAo/uqAh_e6LEBA/S220/HS+BARU.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4679235888465264280.post-5860645571619080106</id><published>2008-02-15T12:31:00.004+07:00</published><updated>2008-02-21T09:52:15.852+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anugerah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='grace'/><title type='text'>Anugerah Tuhan</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/b6lhilgWXIE&amp;amp;rel=" width="425" height="355" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;color:#000099;"&gt;Grace Alone&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;Every promise we can make&lt;br /&gt;Every prayer and step of faith&lt;br /&gt;Every difference we can make&lt;br /&gt;Is only by His grace.&lt;br /&gt;Every mountain we will climb&lt;br /&gt;Every ray of hope we shine&lt;br /&gt;Every blessing left behind&lt;br /&gt;Is only by His grace&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;Reff.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;Grace alone Which God supplies&lt;br /&gt;Strength unknown He will provide&lt;br /&gt;Christ in us, our cornerstone&lt;br /&gt;We will go forth in grace alone.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;Every soul we long to reach&lt;br /&gt;Every heart we hope to teach&lt;br /&gt;Everywhere we share His peace&lt;br /&gt;Is only by His grace.&lt;br /&gt;Every loving word we say&lt;br /&gt;Every tear we wipe away&lt;br /&gt;Every sorrow turned to praise&lt;br /&gt;Is only by His grace. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;©1998 Maranatha! Music.&lt;br /&gt;Words and Music by Scott Wesley Brown, Jeff Nelson&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;Lagu ini adalah salah satu lagu yang favorit saya. Lagu yang sangat membangun iman percaya bahwa Yesus tidak akan meninggalkan, membiarkan serta hanya melalui DIA saya dimampukan melakukan pelayanan dan pekerjaan2 yang ringan, sedang dan berat sekalipun. dan hanya melalui anugerahnya saya memperoleh pengharapan&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4679235888465264280-5860645571619080106?l=prazh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prazh.blogspot.com/feeds/5860645571619080106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4679235888465264280&amp;postID=5860645571619080106' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/5860645571619080106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/5860645571619080106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prazh.blogspot.com/2008/02/anugerah-tuhan.html' title='Anugerah Tuhan'/><author><name>prazh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01247479753862694266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gNWaDcx-39I/SwTGXlltmsI/AAAAAAAAAAo/uqAh_e6LEBA/S220/HS+BARU.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4679235888465264280.post-4248994815579441883</id><published>2008-02-14T10:01:00.005+07:00</published><updated>2008-02-15T14:22:51.077+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Yesus'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sahabat sejati'/><title type='text'>Hanya Yesus Sahabat Sejati</title><content type='html'>What a Friend We Have in Jesus&lt;br /&gt;Text: Joseph M. Scriven, 1820-1886&lt;br /&gt;Music: Charles C. Converse, 1832-1918&lt;br /&gt;Tune: CONVERSE, Meter: 87.87 D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What a friend we have in Jesus,&lt;br /&gt;all our sins and griefs to bear!&lt;br /&gt;What a privilege to carry&lt;br /&gt;everything to God in prayer!&lt;br /&gt;O what peace we often forfeit,&lt;br /&gt;O what needless pain we bear,&lt;br /&gt;all because we do not carry&lt;br /&gt;everything to God in prayer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Have we trials and temptations?&lt;br /&gt;Is there trouble anywhere?&lt;br /&gt;We should never be discouraged;&lt;br /&gt;take it to the Lord in prayer.&lt;br /&gt;Can we find a friend so faithful&lt;br /&gt;who will all our sorrows share?&lt;br /&gt;Jesus knows our every weakness;&lt;br /&gt;take it to the Lord in prayer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Are we weak and heavy laden,&lt;br /&gt;cumbered with a load of care?&lt;br /&gt;Precious Savior, still our refuge;&lt;br /&gt;take it to the Lord in prayer.&lt;br /&gt;Do thy friends despise, forsake thee?&lt;br /&gt;Take it to the Lord in prayer!&lt;br /&gt;In his arms he'll take and shield thee;&lt;br /&gt;thou wilt find a solace there.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu lagu yang sungguh indah suatu lagu yang menggambarkan kehidupan kita. Sering dalam menapaki jalan kehidupan, kita sering berbuat dosa, merasa letih, lelah dan beban yang harus dipikul sungguh berat. Melalui lagu ini kita dingatkan bahwa segala keletihan, kelelahan, beban kehidupan dan dosa dapat terlepas. Kita dapat memperoleh kelegaan hanya dengan satu cara yaitu berdoa. Berdoalah dan Akuilah DIA sebagai Tuhan juru selamat pribadi kita. Berdoalah kepada Yesus Kristus dengan membawa segala beban, rasa letih, lapar, dahaga dan penyesalan kita atau juga segala sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serahkan semua kepada Yesus, sang juru selamat. Di dalam Yesus Kristus kita mendapatkan pengampunan dan kelegaan. Yesus sendiri mengatakan marilah datang kepadaKu,' Hai, kamu yang letih dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Jangan keraskan hati. Yesus adalah kawan, sahabat sejati yang tiada taranya. Tuhan memberkati&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4679235888465264280-4248994815579441883?l=prazh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prazh.blogspot.com/feeds/4248994815579441883/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4679235888465264280&amp;postID=4248994815579441883' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/4248994815579441883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/4248994815579441883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prazh.blogspot.com/2008/02/hanya-yesus-sahabat-sejati.html' title='Hanya Yesus Sahabat Sejati'/><author><name>prazh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01247479753862694266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gNWaDcx-39I/SwTGXlltmsI/AAAAAAAAAAo/uqAh_e6LEBA/S220/HS+BARU.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4679235888465264280.post-5769982134198919930</id><published>2008-02-14T10:01:00.003+07:00</published><updated>2008-02-14T10:06:52.052+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Doa'/><title type='text'>Tentang Doa</title><content type='html'>&lt;h2 class="style1 style1"&gt;Mengapa Doa Kita Tidak Dijawab Tuhan?&lt;/h2&gt;&lt;h3 class="style1 style1"&gt;Yakobus 4:1-3&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="style1 style1"&gt;&lt;span class="style3"&gt;&lt;span class="style5"&gt;&lt;span class="style6"&gt;&lt;em&gt;4:1. Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4:2 Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4:3 Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="style2 style1 style6" align="justify"&gt;Dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita sering berdoa. Kita berdoa dalam kala suka dan duka.&lt;br /&gt;Meski kita sering menghadap Tuhan bila kita duka tapi kebalikannya bila suka, jarang deh menghampiri Tuhan dalam doa :) Tapi itu bukan permasalahan yang dibahas pada saat ini.&lt;br /&gt;Dalam kita berdoa, lebih-lebih bila kita berdoa tentang suatu pergumulan/permohonan tentunya sangat mengharapkan sebuah jawaban dari Tuhan. Tetapi mengapa sampai bosan rasanya kita berdoa, doa kita tidak dijawab oleh Tuhan. Nah pada saat ini kita akan belajar mengapa doa-doa yang kita panjatkan tidak dibalas atau dijawab oleh Tuhan. Ada beberapa alasan mengapa doa-doa kita tidak dibalas oleh Tuhan. Pada kesempatan kali ada 3 alasan mengapa hal itu dapat terjadi, yaitu &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol class="style2"&gt;&lt;li&gt;Kita salah berdoa (Yakobus 4:3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud dari ayat ini adalah Tuhan menolak untuk menjawab doa-doa kita yang sifatnya mencintai kesenangan, untuk kepentingan pribadi atau juga doa kita menunjukkan keambisiusan.&lt;br /&gt;Sering juga kita salah berdoa karena salah persepsi tentang doa.&lt;br /&gt;Maksudnya adalah dalam berdoa, sikap dan pikiran kita menyamakan doa itu sama seperti mantra, ritual juga doa adalah suatu kewajiban bukan kesukaan.&lt;br /&gt;Dalam hal ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa Tuhan:&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Mendengar doa orang yang benar. ( Maz. 34:14-16 ; Maz. 66:18-19)&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Mendengar dan mengabulkan doa kepada mereka yang berseru kepadaNya dalam kesetiaan.(Maz. 145:18)&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Mendengar dan menjawab doa kepada mereka yang sungguh-sungguh bertobat dan rendah hati. (Luk.18:14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini kita dapat amati dari ayat 9 sampai ke 14, dimana doa seorang farisi ditolak sedangkan doa si pemungut cukai dibenarkan oleh Tuhan.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Mengabulkan doa bagi mereka yang meminta sesuai dengan kehendakNya. (1 Yoh. 5:14) &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Kurang tekun (Lukas 11:9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang tekun karena meremehkan kuasa doa serta kita bersikap apatis, skeptis terhadap doa. Sekali, kali dua, kali tiga doa kita tidak dijawab kita malas untuk berdoa lagi, putus asa. Dalam ayat ini dapat dipelajari bahwa Yesus mendorong kita untuk bertekun di dalam doa. Kita jangan lupa untuk terus meminta, mencari, dan mengetok.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Meminta:&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;Mengandung arti kesadaran akan kebutuhan dan kepercayaan bahwa Tuhan mendengarkan doa kita.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Mencari:&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;Menunjukkan permohonan yang sungguh-sungguh disertai dengan ketaatan pada kehendak Tuhan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Mengetok:&lt;/u&gt; &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;Menunjukkan adanya ketekunan dalam menghampiri Tuhan walaupun IA tidak menjawab dengan segera&lt;/p&gt;&lt;li&gt;Kurang iman (Matius 9:29, 21:21-22; Markus 9:23, 11:24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat-ayat di atas bisa dipelajari akan perlunya iman. Iman disini adalah iman yang benar, iman yang sejati. Jawaban atas doa juga tergantung dengan iman kita. Segala sesuatu yang selaras dengan kehendak Tuhan dapat dilaksanakan atau diterima oleh mereka yang tidak ragu-ragu. Kalau kita memiliki iman yang sejati maka doa kita dapat terkabul. Apa itu iman sejati?&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Iman sejati adalah iman efektif yang memberikan hasil&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Iman sejati bukanlah percaya kepada iman sebagai kekuatan atau kuasa tetapi hanya percaya pada Tuhan&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Iman sejati adalah kinerja Tuhan di dalam hati orang percaya&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Iman sejati adalah suatu karunia yang dianugerahkan kepada kita oleh Kristus&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Iman sejati adalah iman yang di bawah pengawasan Tuhan&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p class="style2"&gt;Sebuah quote yang bagus bagi Anda semua di akhir artikel ini yang berbunyi demikian:&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="style2" align="center"&gt;&lt;b&gt;Saudara dapat berbuat lebih daripada DOA setelah Saudara berdoa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Saudara tidak dapat berbuat lebih daripada DOA sebelum Saudara berdoa&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4679235888465264280-5769982134198919930?l=prazh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prazh.blogspot.com/feeds/5769982134198919930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4679235888465264280&amp;postID=5769982134198919930' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/5769982134198919930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/5769982134198919930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prazh.blogspot.com/2008/02/mengopa-doa-kita-tidak-dijawab-tuhan.html' title='Tentang Doa'/><author><name>prazh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01247479753862694266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gNWaDcx-39I/SwTGXlltmsI/AAAAAAAAAAo/uqAh_e6LEBA/S220/HS+BARU.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4679235888465264280.post-2928087360229696999</id><published>2008-02-13T13:57:00.006+07:00</published><updated>2008-02-15T16:06:34.016+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengampunan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kasih'/><title type='text'>Tuluskah Kasih Kita?</title><content type='html'>&lt;h2 align="center"&gt;Saling Mengasihi&lt;/h2&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="COLOR: rgb(0,0,153); FONT-STYLE: italic"&gt;Kukasihi kau dengan kasih Tuhan&lt;br /&gt;Kukasihi kau dengan kasih Tuhan&lt;br /&gt;Kulihat diwajahmu kemuliaan Raja&lt;br /&gt;Kukasihi Kau dengan kasih Tuhan&lt;/p&gt;Itulah barisan kata yang sering kita dengar dan atau kita nyanyikan di gereja atau dalam persekutuan. Kita menyanyikan lagu tersebut dengan sukacita, gembira dan penuh semangat. Tetapi yang menjadi masalah apakah kita yang menyanyikan lagu tersebut menjiwai dan mengerti akan makna lagu tersebut? Marilah kita berpikir dan merenung apa sih maksud dari lagu tersebut? Apakah cuma sekedar barisan kata-kata untuk dinyanyikan atau mempunyai arti yang begitu mendalam? marilah melihat dan mendengar dalam mata hati kita. Sudahkah kita mengaplikasikan barisan kata-kata dalam lagu di atas? Mari kita membaca ayat alkitab dari Yohanes 13:34-35 yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic;font-family:verdana;" &gt;ayat 34 Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="FONT-STYLE: italic;font-family:verdana;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ayat 35 Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Dari sini kita dapat mengetahui bahwa saling mengasihi adalah perintah langsung dari Tuhan Yesus. Meski perintah langsung dari Yesus apakah dalam kehidupan sehari-hari sudahkah kita mengasihi. Mengasihi bukanlah sekedar mengasihi tetapi ada beberapa hal yang harus diketahui, mengerti dan pahami. Apa sih yang mesti harus kita tahu, mengerti dan pahami? &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;1.&lt;b&gt;Tidak Egois&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sering secara sadar atau tidak kita bersikap egois terhadap kasih. Kita sering berbicara atau melakukan sesuatu yang menurut kita adalah kasih tapi ujung-ujungnya buat kebaghagiaan diri sendiri bukan untuk orang lain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;2. Pengorbanan &lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kasih itu butuh pengorbanan. Apa yang perlu dikorbankan? Banyak sekali, kita dapat berkorban dalam hal materi, waktu juga perasaan. Dalam memberikan kasih jangan menuntut. Karena aku sudah mengasihi kamu maka kamu harus begini dan atau begitu. Wah-wah itu bukan kasih namanya coz kasih tidak menuntut imbalan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;3. Pengertian &lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kasih itu pengertian. Sering kita dengar bahkan bicara bahwa &lt;b&gt;cinta itu buta&lt;/b&gt;, kasih itu buta? apakah benar? Kalau dipikir dengan masak itu adalah kekliruan besar. Kalau cinta atau kasih itu buta maka kita hanya melihat kelebihan, kebaikan dari orang-orang yang kita kasihi atau cintai saja, sedangkan hal yang lain seperti kelemahan, kejelekan, kekurangan, atau hal-hal negatif dari mereka kita abaikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan suatu saat bila sudah dapat melihat dengan jelas, betapa kecewanya kita mendapati hal-hal yang merupakan kekurangan, kelemahan dari orang yang kita kasihi atau cintai membuat kita terpana dan kita tidak dapat menerima keberadaan mereka secara utuh untuk dicintai/dikasihi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Coba kalau dari awal kita tidak buta dan menerapkan prinsip pengertian maka hal tersebut tidak akan terjadi karena dengan kasih yang berpengertian adalah kita menerima orang yang dikasihi, cintai dengan segala kelemahan, kekurangan, kelebihan, kebaikan, hal-hal positif dan negatif yang dia miliki termasuk watak, kepribadian dan atau masa lalu mereka juga keluarga mereka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;4. Pengampunan &lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Wuihh ini yang sulit, ya sangat sulit, &lt;b&gt;MENGAMPUNI&lt;/b&gt;. Benar gak kawan? kita sulit lho mengampuni bukan hanya kawan-kawan yang ngebaca artikel ini yang merasa sulit saya pun juga merasakan bahwa saya juga sering sulit untuk mengampuni. Tetapi itulah yang harus kita lakukan bila kita mau mengasihi orang lain, sesama kita yaitu &lt;i&gt;mengampuni&lt;/i&gt;. Bicara soal pengampunan ada yang harus kawan-kawan perhatikan dengan baik dan dipahami. Pengampunan ada itu ada 3 macam yaitu:&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pengampunan yang cuma di bibir atau mulut&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;Kita berbicara tentang mengampuni tapi, nah ada tapinya ini yang menjadi persoalan. Di mulut sih mengampuni tapi dalam hati kita gak kan aku memaafkan dan mengampuni kamu. Pengampunan yang kita berikan hanya sekedar pemanis aja, istilah kerennya lip service gitulah. Pengampunan seperti ini tidak dianjurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pengampunan tulus tapi tidak ada relasi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;Nah kalau pengampunan yang seperti ini maksudnya adalah benar kita sudah mengampuni tapi orang yang kita ampuni khan pernah bersalah sama kita jadi kita tidak perlu dekat-dekat dengan mereka. Gak usah berhubungan dengan mereka deh, makan hati kalau inget-inget kesalahan atau perlakuan mereka. Intinya dari jenis kedua ini adalah pokoknya aku sudah mengampuni dan konsekuensinya adalah aku gak mau berhubungan/berkomunikasi dengan mereka titik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pengampunan tulus tapi ada relasi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;Nah ini dia yang terakhir. Apaan sih mengampuni dengan relasi? maksudnya adalah kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita dengan hati tulus, setulus-tulusnya. Tidak ada istilah dendam, pengampunan yang hanya terucap di bibir juga tidak ada istilah tidak mau menjalin hubungan dengan mereka. So pengampunan di sini adalah kita mengampuni orang lain dan kita juga masih tetap menjalin hubungan/komunikasi dengan mereka tanpa takut mereka akan berbuat salah lagi atau menyakiti. &lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;Tentang kasih atau pengampunan ini saya teringat tokoh dunia dari Afrika Selatan yaitu Nelson Mandela, bagaimana perlakuan yang dia terima akibat politik apartheid di negerinya. Kepada lawan-lawan politiknya yang pernah menyakitinya ketika politik apartheid sudah dihancurkan ia berujar I cannot forget but I forgive. Apapun pengalaman baik itu bik atau buruk itu semua tidak akan pernah terlupakan karena itu adalah bagian dari kehidupan yang membuat kita semakin mawas dan berjaga-jaga dalam menjalani kehidupan ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kalau ada orang yang sama berbuat jahat, menipu terhadap kita lagi gimana? sama seperti ucapan Tuhan Yesus ampunilah mereka sebanyak tujuh puluh kali tujuh kali&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;/ul&gt;Bagaimana dengan kita pada saat ini bila ada orang yang berbuat jahat, menyakiti, menipu apakah kita sudah mengampuni? Pengampunan manakah yang kita berikan? Segala jawaban ada ditangan kawan-kawan semua termasuk saya juga. Dan setiap pilihan yang kita ambil akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan kelak. Amin &lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;bibliografi: Barclay, William, Pemahaman Alkitab Sehari-hari: Injil Yohanes Fs. 8-21 (Jakarta: Gunung Mulia,1985) 235-237&lt;/p&gt;In christ with love n pray&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;ditulis di malang pada tanggal 15 Oktober 2004, selesai pukul 10.39.36pm&lt;br /&gt;ditulis ulang di malang tanggal 12 februari 2007 pukul 08.09.55pm&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4679235888465264280-2928087360229696999?l=prazh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prazh.blogspot.com/feeds/2928087360229696999/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4679235888465264280&amp;postID=2928087360229696999' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/2928087360229696999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/2928087360229696999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prazh.blogspot.com/2008/02/tuluskah-kasih-kita.html' title='Tuluskah Kasih Kita?'/><author><name>prazh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01247479753862694266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gNWaDcx-39I/SwTGXlltmsI/AAAAAAAAAAo/uqAh_e6LEBA/S220/HS+BARU.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4679235888465264280.post-6865661228665711209</id><published>2008-02-01T14:20:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T15:34:55.379+07:00</updated><title type='text'>Pelayanan di Magetan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_gNWaDcx-39I/R6LIoaxpFhI/AAAAAAAAAAM/O605jG5pLbE/s1600-h/DSC00214.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_gNWaDcx-39I/R6LIoaxpFhI/AAAAAAAAAAM/O605jG5pLbE/s320/DSC00214.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161908719627867666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Foto bersama dengan rekan pelayanan di Gereja Eleos Magetan tahun lalu. banyak berkat yang diterima dari Pelayanan Kasih ini. Thx a lot to JC yang telah mempertemukan kami dengan mereka. Meski bantuan kami tidak banyak tapi rasa kekeluargaan di dalam JC tidak dapat dibeli oleh apapun&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4679235888465264280-6865661228665711209?l=prazh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prazh.blogspot.com/feeds/6865661228665711209/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4679235888465264280&amp;postID=6865661228665711209' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/6865661228665711209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/6865661228665711209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prazh.blogspot.com/2008/02/pelayanan-di-magetan.html' title='Pelayanan di Magetan'/><author><name>prazh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01247479753862694266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gNWaDcx-39I/SwTGXlltmsI/AAAAAAAAAAo/uqAh_e6LEBA/S220/HS+BARU.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_gNWaDcx-39I/R6LIoaxpFhI/AAAAAAAAAAM/O605jG5pLbE/s72-c/DSC00214.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4679235888465264280.post-6389788826649825949</id><published>2007-12-19T13:00:00.001+07:00</published><updated>2008-03-24T12:16:50.038+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='natal'/><title type='text'>Natal Tlah Tiba</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Bulan Desember telah memasuki tanggal 19 Desember, ehm tak terasa seminggu lagi natal telah tiba. Natal, apakah natal cuma sekedar natal begitu saja. Dengan adanya natal kita tahu pabila Bapa di surga mengirim anakNya untuk kita, manusia berdosa. Ya, anak-Nya Yesus Kristus yang akan mati bagi kita di golgota. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4679235888465264280-6389788826649825949?l=prazh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prazh.blogspot.com/feeds/6389788826649825949/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4679235888465264280&amp;postID=6389788826649825949' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/6389788826649825949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4679235888465264280/posts/default/6389788826649825949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prazh.blogspot.com/2007/12/natal-tlah-tiba.html' title='Natal Tlah Tiba'/><author><name>prazh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01247479753862694266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gNWaDcx-39I/SwTGXlltmsI/AAAAAAAAAAo/uqAh_e6LEBA/S220/HS+BARU.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
